Ini Penjelasan Kengapa Biaya Produksi Pertamax Lebih Mahal dari Pertalite

Kamis, 11 Juni 2026 12:01 WIB

Penulis:El Putra

Editor:El Putra

Pertamina-SPBU.jpeg
Pertamina (Pertamina)

MAKASSARINSIGHT.com - Selisih harga Pertamax dan Pertalite kini semakin lebar setelah PT Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi pada 8 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, membuat perbedaan harga kedua jenis BBM tersebut mencapai Rp6.250 per liter.

Selain Pertamax, harga Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Di sisi lain, harga Pertalite (RON 90) tetap dipertahankan di level Rp10.000 per liter dan tidak mengalami perubahan.

Banyak yang bertanya mengapa selisih harga pertamax dan pertalite kini cukup jauh, padahal sama-sama digunakan untuk kendaraan bermotor.

Jawabannya tidak hanya berkaitan dengan kualitas bahan bakar, tetapi juga menyangkut proses produksi, teknologi pengolahan, hingga kebijakan subsidi pemerintah.

Baca Juga: 

Pertamax Diproduksi di Kilang Pertamina

Pertamax merupakan bahan bakar minyak (BBM) yang diproduksi dan dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero). Proses pengolahannya dilakukan oleh PT Kilang Pertamina Internasional yang mengoperasikan sejumlah kilang utama di Indonesia.

Beberapa kilang yang berperan dalam produksi Pertamax antara lain:

  • RU VI Balongan
  • RU IV Cilacap
  • RU V Balikpapan

Kilang-kilang tersebut mengolah minyak mentah menjadi berbagai produk BBM, termasuk Pertamax dengan angka oktan atau RON (Research Octane Number) 92.

Untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, Pertamina menggunakan campuran minyak mentah yang berasal dari produksi domestik maupun impor.

Dalam praktik industri pengilangan modern, penggunaan minyak mentah impor bukanlah hal yang tidak lazim. Setiap jenis minyak memiliki karakteristik berbeda sehingga kilang membutuhkan kombinasi tertentu agar dapat menghasilkan produk BBM sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

Belakangan, isu impor BBM juga menjadi sorotan setelah muncul dugaan penyimpangan dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang. Kasus tersebut memicu pengawasan yang lebih ketat terhadap mekanisme impor dan distribusi BBM di Indonesia.

Apa Itu RON dan Mengapa Penting?

Perbedaan utama Pertalite dan Pertamax terletak pada angka oktannya. RON atau Research Octane Number merupakan ukuran kemampuan bensin menahan pembakaran dini di ruang mesin atau yang dikenal sebagai knocking.

Semakin tinggi angka RON, semakin baik bahan bakar tersebut dalam mendukung kinerja mesin berkompresi tinggi.

  • Pertalite memiliki RON 90
  • Pertamax memiliki RON 92
  • Pertamax Turbo memiliki RON 98

Mesin kendaraan modern umumnya dirancang untuk menggunakan BBM dengan angka oktan yang lebih tinggi agar pembakaran berlangsung optimal, efisien, dan tidak merusak komponen mesin.

Baca Juga: 

Mengapa Menaikkan RON Membutuhkan Biaya Mahal?

Banyak masyarakat mengira selisih dua angka oktan antara Pertalite dan Pertamax tidak akan berpengaruh besar terhadap biaya produksi. Namun dalam industri pengilangan, peningkatan angka oktan memerlukan proses tambahan yang kompleks dan mahal.

1. Minyak Mentah Tidak Langsung Menjadi Pertamax

Hasil penyulingan awal minyak mentah menghasilkan komponen bensin dengan angka oktan relatif rendah, umumnya berkisar RON 50–70. Agar mencapai RON 92, bahan bakar tersebut harus melalui serangkaian proses lanjutan.

2. Membutuhkan Teknologi Pengolahan Khusus

Beberapa teknologi yang digunakan untuk meningkatkan angka oktan antara lain:

  • Reforming katalitik, yaitu mengubah struktur molekul agar memiliki oktan lebih tinggi.
  • Isomerisasi, yang mengubah molekul rantai lurus menjadi bercabang.
  • Alkilasi, proses kompleks yang menghasilkan komponen bensin beroktan tinggi.
  • Blending, yakni pencampuran dengan komponen atau aditif tertentu yang memiliki angka oktan tinggi.

Setiap proses tersebut memerlukan investasi besar, teknologi canggih, serta biaya operasional yang tidak sedikit.

3. Konsumsi Energi Lebih Besar

Unit pengolahan untuk menghasilkan BBM beroktan tinggi bekerja pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi.

Sebagai contoh, proses reforming dapat berlangsung pada suhu sekitar 500 derajat Celsius dengan menggunakan katalis berbasis logam mulia seperti platina. Selain mahal, katalis tersebut juga membutuhkan perawatan dan penggantian secara berkala.

4. Hasil Produksi Tidak Sepenuhnya Efisien

Dalam proses peningkatan oktan, sebagian molekul hidrokarbon akan terpecah menjadi produk lain seperti gas atau residu. Akibatnya, volume bensin beroktan tinggi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan jika hanya memproduksi bensin beroktan rendah. Faktor ini turut meningkatkan biaya produksi per liter.

Faktor Terbesar : Subsidi Pemerintah

Meskipun biaya produksi Pertamax memang lebih tinggi, faktor yang paling menentukan perbedaan harga dengan Pertalite adalah kebijakan subsidi.

Pertalite termasuk BBM yang mendapatkan dukungan pemerintah sehingga harga jualnya kepada masyarakat berada di bawah harga keekonomian.

Sebaliknya, Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang harga jualnya mengikuti mekanisme pasar, termasuk pergerakan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi.

Artinya, tanpa subsidi, harga Pertalite sebenarnya akan jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayarkan konsumen saat ini.

Dengan memahami proses produksi dan struktur biaya tersebut, masyarakat dapat melihat bahwa harga BBM tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya, tetapi juga oleh teknologi pengolahan, efisiensi kilang, dan kebijakan energi nasional.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 11 Jun 2026