Deng Ical: Niat Awal Board of Peace Bela Gaza

Senin, 02 Maret 2026 22:07 WIB

Penulis:Isman Wahyudi

Editor:El Putra

1000988522.jpg
Anggota DPR RI Syamsu Rizal atau akrab disapa Deng Ical. (IST)

MAKASSARINSIGHT.com - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Syamsu Rizal MI, mengungkap latar belakang keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace. Menurutnya, keputusan tersebut berangkat dari komitmen kuat untuk mendorong perdamaian di Gaza dan mendukung kemerdekaan Palestina.

Hal itu disampaikan legislator yang akrab disapa Deng Ical dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama di Kantor DPC PKB Makassar, Senin (2/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah organisasi mahasiswa dan sosial, antara lain IMM, TKSK, Forum Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Makassar, serta perwakilan media.

“Karena untuk perdamaian Gaza, maka Indonesia yang angkat tangan untuk bergabung,” ujar Deng Ical.

Ia menjelaskan, gagasan pembentukan Board of Peace muncul karena berbagai resolusi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dinilai belum mampu menghentikan konflik berkepanjangan di Gaza. Sejumlah sidang dan resolusi kerap berujung kebuntuan politik, terutama akibat penggunaan hak veto di Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga: 

Menurut mantan Wakil Wali Kota Makassar itu, kondisi tersebut mendorong sejumlah negara, khususnya dari kawasan Timur, membentuk forum alternatif yang diharapkan lebih efektif dalam merealisasikan perdamaian secara konkret.

“Resolusi PBB sering tidak mampu mengubah keadaan di lapangan. Karena itu muncul inisiatif membentuk forum baru yang diharapkan lebih efektif,” jelasnya.

Indonesia, lanjut Deng Ical, memandang forum tersebut sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi diplomasi dalam mendukung kemerdekaan Palestina, sejalan dengan amanat konstitusi UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Dalam perjalanannya, forum tersebut diisi sejumlah tokoh dunia, di antaranya mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, seiring waktu, dinamika internal forum dinilai mengalami pergeseran. Deng Ical menyebut fokus pembahasan yang awalnya spesifik pada perdamaian Gaza mulai melebar menjadi isu stabilitas kawasan Timur Tengah secara umum.

“Awalnya spesifik untuk Gaza. Tapi belakangan bergeser menjadi isu perdamaian Timur Tengah secara umum. Kita tentu kaget karena fokusnya berubah,” ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya kesepakatan damai yang sempat dibicarakan, namun konflik di lapangan tetap berlangsung. Hal itu, menurutnya, menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas forum dalam memastikan implementasi kesepakatan.

Keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut, kata Deng Ical, sempat dibahas di DPR RI, khususnya terkait urgensi dan arah kebijakan luar negeri. Secara prinsip, ia menilai langkah bergabung tidak keliru karena niat awalnya jelas untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan memperkuat jalur diplomasi internasional.

“Awalnya benar sekali, untuk memerdekakan Palestina. Karena selama ini pintu-pintu diplomasi yang kuat terasa belum cukup,” tegasnya.

Baca Juga: 

Ia mengingatkan agar Indonesia tetap konsisten pada tujuan awal, terutama di tengah dinamika global dan target resolusi yang sempat direncanakan rampung pada 15 Januari lalu namun belum terealisasi.

Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang vokal mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional. Pemerintah secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan, pembukaan akses kemanusiaan, serta solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan damai permanen.

“Jangan sampai tujuan awal kita untuk Gaza dan kemerdekaan Palestina justru kabur di tengah jalan,” pungkas Deng Ical.