Sustaination, Ini Inovasi Penerima Beasiswa LPDP yang Viral

Dwi Sasetyaningtyas penerima beasiswa LPDP. (sustaination.id)

MAKASSARINSIGHT.com – Media sosial dihebohkan kontroversi Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), setelah video tentang anaknya yang memiliki paspor Inggris viral dan memicu kecaman publik.

“Aku tahu dunia terlihat enggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” kata Tyas dalam unggahannya videonya.

Pernyataannya memicu pro dan kontra, mengingat Tyas diketahui menempuh pendidikan dengan uang pajak rakyat melalui LPDP. Tak lama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan akan memberikan sanksi tegas untuk penerima beasiswa LPDP yang menghina negara.

Baca Juga: 

Sanksi yang disiapkan yaitu blacklist dari kerja sama dengan pemerintah hingga kewajiban mengembalikan dana beasiswa beserta bunganya.

Di tahun 2015, Tyas lolos seleksi LPDP angkatan PK-35, yang dikenal memiliki persaingan ketat. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, dengan mengambil program Sustainable Energy Technology.

Sebelumnya, Tyas sendiri memulai pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung pada 2009 dengan jurusan Teknik Kimia.

Salah satu kiprah yang pernah ia lakukan yaitu mendirikan Sustaination, bisnis yang berbasis produk-produk ramah lingkungan yang mendorong gaya hidup zero waste, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah.

Profil Sustaination

Produk-produk Sustaination milik Dwi Sasetyaningtyas penerima beasiswa LPDP. (sustaination.id)

Dilansir dari sustaination.id, Sustaination merupakan platform yang fokus pada gaya hidup berkelanjutan dengan menghadirkan kurasi produk-produk ramah lingkungan.

Gaya hidup berkelanjutan terlihat mahal, aneh, rumit, menyita waktu, dan bergantung pada peran pemerintah karena minimnya informasi yang tersedia. Namun, Sustaination hadir dengan komitmen untuk mendampingi teman-teman untuk bertransisi menuju gaya hidup yang selaras dengan alam.

Sustaination didirikan oleh Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas pada tahun 2018 saat ia dan keluarganya mencoba untuk hidup berkelanjutan di Belanda. Dalam perjalanan tersebut, ia menyadari sebagian besar artikel dan video yang membahas tentang kehidupan berkelanjutan tersedia secara luas dalam bahasa Inggris.

Dari situ, Tyas mulai menuliskan perjalanannya menuju gaya hidup berkelanjutan di Indonesia untuk mendorong lebih banyak orang Indonesia mengurangi sampah dan hidup lebih berkelanjutan. Hal itu bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Berkelanjutan.

Saat Tyas kembali ke Indonesia, ia menyadari beralih ke gaya hidup berkelanjutan bukanlah hal yang mudah di negara asalnya. Hal ini karena akses terhadap produk berkelanjutan sangat terbatas. Oleh karena itu, ia mendirikan toko online yang dimulai dengan produk yang paling ia sukai, yaitu menstrual cup.

Produk-produk lain kemudian menyusul karena ia percaya produk berkelanjutan harus tersedia secara luas bagi masyarakat Indonesia. Ia dengan cermat memilih dan menyeleksi semua produk di Sustaination untuk memastikan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan.

Tyas percaya bahwa penting untuk mempromosikan produk lokal dan berkelanjutan yang memberikan dampak sosial dan lingkungan.

Sustaination kini dioperasikan di bawah PT Lingkar Hijau Indonesia yang memiliki tim beranggotakan 10 orang dan komunitas dengan lebih dari 50.000 orang yang tertarik untuk belajar bagaimana hidup lebih berkelanjutan selangkah demi selangkah.

Dilansir dari zerowastelivinglab.enviu.org, dalam waktu kurang dari dua tahun sejak diluncurkan, Sustaination telah berhasil mengurangi lebih dari 6 juta produk sekali pakai dan menekan sekitar 30.000 kilogram sampah plastik per tahun. Dampak positif ini pun diproyeksikan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Mulai dari menyediakan menstrual cup sebagai alternatif pembalut sekali pakai hingga menggagas kampanye #thinkbeforeyoubuy yang mengajak pelanggan berbelanja secara lebih sadar, Sustaination membedakan diri dari platform e-commerce konvensional.

Mereka tidak hanya menawarkan produk yang sepenuhnya berkelanjutan, tetapi juga mendorong konsumen untuk menghindari perilaku belanja impulsif.

Baca Juga: 

Citra Bisnis

Citra bisnis yang baik tidak hanya menciptakan kepercayaan konsumen, tetapi juga memperkuat daya saing di pasar.

Sementara, dalam dunia bisnis reputasi pendiri sering kali berpengaruh langsung terhadap tingkat kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, masalah yang melibatkan Tyas baru-baru ini berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap bisnisnya, Sustaination.

Kontroversi yang menyeret Tyas memicu kekhawatiran terkait citra merek Sustaination, terlebih di tengah meningkatnya perhatian masyarakat pada nilai etika dan nasionalisme Akan tetapi, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi terkait dampak langsung terhadap operasional Sustaination.

Perlu kamu tahu, kasus ini menjadi gambaran bagaimana isu yang berkembang di media sosial bisa menyebar dengan cepat dan memberi pengaruh terhadap keberlangsungan bisnis.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 24 Feb 2026 

Editor: El Putra
Bagikan
Isman Wahyudi

Isman Wahyudi

Lihat semua artikel

Related Stories