Ekonomi & Bisnis
Fundamental Solid, Segini Target Saham Bank Mandiri
MAKASSARINSIGHT.com – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencetak laba bersih 2025 yang sejalan dengan estimasi, bahkan melampaui konsensus analis.
Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp18,6 triliun pada kuartal IV-2025 (4Q25), melonjak 40% secara kuartalan (qoq) dan 35% secara tahunan (yoy). Dengan demikian, laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp56,3 triliun atau tumbuh 1% yoy. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, menyebut perolehan tersebut setara 101% dari estimasi internal dan 110% dari konsensus.
Adapun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BMRI pada 2025 mencapai 4,9% atau turun 26 basis poin yoy. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya yield kredit, yang sebagian diimbangi oleh penurunan biaya dana (cost of fund/CoF). Meski demikian, kualitas aset tetap solid dengan rasio non-performing loan (NPL) sebesar 1,1% dan loan at risk (LAR) 6,5%.
Dari sisi intermediasi, kredit BMRI tumbuh 13% yoy atau 7% qoq. Pertumbuhan dipimpin oleh segmen kredit korporasi yang meningkat 23% yoy dan kredit komersial yang tumbuh 12% yoy. Dana pihak ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan kuat, terutama current account saving account (CASA) yang naik 12,6% yoy menjadi Rp1.431 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) tetap terjaga di kisaran 89%.
Untuk tahun ini, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7–9% yoy, NIM di kisaran 4,6–4,8%, cost of credit (CoC) 0,6–0,8%, serta cost to income ratio (CIR) 42–43%.
Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, memperkirakan laba BMRI pada 2026 akan didorong oleh pendapatan non-bunga, terutama dari peningkatan fee berbasis platform digital seiring rencana monetisasi aplikasi Livin’ yang lebih agresif. Beban operasional (opex) diperkirakan relatif datar atau bahkan menurun setelah adanya penyesuaian satu kali (one-off) pada 2025.
Secara konservatif, opex diprediksi hanya naik 3% yoy sehingga CIR berpotensi turun menjadi 44% pada 2026, dibandingkan 46% pada 2025.
Secara keseluruhan, Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba BMRI sekitar 6% pada 2026 menjadi Rp58,7 triliun atau 6,3% di atas konsensus sebesar Rp55,2 triliun. Sekuritas tersebut merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga Rp6.400.
Valuasi dinilai menarik dengan price to book value (P/B) 1,4 kali dan price to earnings (P/E) 8,1 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing 1,6 kali dan 11,6 kali. Selain BMRI, Indo Premier juga menjagokan Bank Negara Indonesia (BBNI) sebagai pilihan di sektor perbankan.
MNC Sekuritas turut merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga Rp6.050, yang mencerminkan estimasi P/B 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 1,8 kali dan 1,7 kali.
Sepanjang 2025, pendapatan non-bunga meningkat 14,5% yoy menjadi Rp48,5 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi nasabah dan pemanfaatan layanan berbasis ekosistem.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas dijaga secara disiplin dan terukur sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
BMRI juga menanggapi outlook negatif dari Moody's terhadap lima bank besar di Indonesia, termasuk perseroan, dari sebelumnya stabil.
Corporate Secretary BMRI, Adhika Vista, menyatakan penilaian eksternal tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dinamika makroekonomi, pergerakan nilai tukar, serta kondisi fundamental perseroan.
Ke depan, BMRI akan memperkuat langkah antisipatif terhadap risiko eksternal melalui penguatan pengelolaan likuiditas dan permodalan serta pemeliharaan kualitas pembiayaan, dengan tetap menjaga disiplin manajemen risiko dan strategi pertumbuhan berkelanjutan.
