Sport
Semifinal Piala Dunia: Ketika Empat Peradaban Bersua
Oleh: Abraham Rungan Mali
Setelah melewati rangkaian pertandingan yang melelahkan, empat kesebelasan akhirnya mencapai semifinal Piala Dunia 2026: Argentina berhadapan dengan Inggris, sedangkan Spanyol bertemu Prancis.
Bagi sebagian besar penonton—yang tentu saja tidak menggantungkan hidup dari bermain sepak bola—pertandingan ini tetap dapat memberikan pelajaran bagi kehidupan. Pelajaran tersebut tidak hanya diperoleh dari formasi atau teknik yang dimainkan, tetapi juga dari cara setiap tim memahami permainan.
Secara sederhana kita dapat menyebutnya sebagai filsafat sepak bola, bahkan mungkin peradaban sepak bola.
Sepak bola dapat dibaca sebagai filsafat yang dimainkan melalui tubuh. Gagasan tidak disampaikan lewat buku atau pidato, melainkan melalui gerakan, operan, duel, keberanian mengambil risiko, serta keputusan yang dibuat dalam hitungan detik.
Meski demikian, penyebutan “filsafat Argentina”, “filsafat Spanyol”, “filsafat Prancis”, atau “filsafat Inggris” tidak boleh dipahami sebagai watak yang tetap dan mutlak dari suatu bangsa. Penyebutan tersebut lebih tepat dilihat sebagai metafora untuk membaca kecenderungan permainan yang diperlihatkan oleh masing-masing tim.
Baca Juga:
- Wali Kota Appi Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Pantau MPLS di Makassar
- Perumda Parkir Makassar Turunkan Satgas Berantas Jukir Liar Kota
- Rangkaian HUT Dekranas Berakhir, Mendagri Sebut Makassar Sukses Jadi Tuan Rumah
Argentina: Sepak Bola sebagai Seni Berjuang
Jika diamati secara saksama, Argentina dalam rangkaian pertandingan Piala Dunia kali ini memainkan sepak bola sebagai perpaduan antara kreativitas, kecerdikan, solidaritas, dan daya tahan mental.
Kesebelasan ini tidak selalu terikat pada satu bentuk permainan. Mereka dapat menguasai bola, bertahan lebih dalam, memperlambat tempo, atau tiba-tiba meningkatkan intensitas serangan.
Cara berpikir mereka dapat dirumuskan sebagai berikut: Kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling lama menguasai bola, tetapi oleh siapa yang paling cerdas menguasai momen.
Lionel Messi dan kawan-kawan tidak mengejar penguasaan bola sekadar untuk menghasilkan statistik. Mereka mengejar saat yang menentukan: kapan harus menekan, kapan harus menunggu, kapan harus mempercepat serangan, dan kapan harus mengubah jalannya pertandingan.

Kecerdasan Praktis
Kecerdasan permainan Argentina dapat dihubungkan dengan pemikiran Aristoteles mengenai phronesis, yaitu kebijaksanaan praktis.
Phronesis berbeda dari episteme, yakni pengetahuan teoretis dan universal mengenai sesuatu. Ia juga berbeda dari techne, yaitu keterampilan teknis untuk menghasilkan atau membuat sesuatu, seperti keterampilan seorang tukang batu.
Phronesis merupakan kemampuan menentukan tindakan yang paling tepat dalam situasi konkret demi mencapai kebaikan bersama. Kemampuan tersebut tidak semata-mata diperoleh melalui teori, tetapi ditempa melalui pengalaman hidup.
Para pemain Argentina di bawah asuhan Lionel Scaloni memperlihatkan bentuk kecerdasan semacam itu. Mereka tidak beranggapan bahwa satu cara bermain selalu benar dalam segala keadaan. Bagi mereka, tindakan yang benar adalah tindakan yang paling sesuai dengan situasi dan tujuan bersama.
Karena itu, fleksibilitas menjadi salah satu kekuatan utama Argentina. Fleksibilitas bukanlah ketiadaan prinsip. Justru prinsip mereka terletak pada kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan tujuan.
Kebebasan dalam Kebersamaan
Sepak bola Argentina juga memperlihatkan hubungan yang menarik antara kebebasan individual dan solidaritas kolektif.
Pemain-pemain kreatif diberi ruang untuk berimprovisasi. Namun, kebebasan tersebut hanya mungkin karena pemain lain bersedia bekerja keras, berlari, menjaga keseimbangan, dan menutup ruang yang ditinggalkan.
Kreativitas tidak muncul dari ego yang memisahkan diri dari tim. Kreativitas justru tumbuh di dalam kepercayaan kolektif.
Di sinilah Argentina memperlihatkan bahwa kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk melakukan apa saja. Kebebasan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang bermakna bersama orang lain.
Waktu sebagai Momentum
Argentina juga memainkan sepak bola berdasarkan pemahaman bahwa waktu pertandingan tidak sepenuhnya bersifat matematis.
Satu menit pada awal pertandingan tidak selalu memiliki arti yang sama dengan satu menit menjelang akhir laga. Ada saat ketika permainan terasa terbuka. Ada saat ketika lawan mulai ragu. Ada pula saat ketika satu tekel, satu penyelamatan, atau satu gol dapat mengubah suasana seluruh pertandingan.
Karena itu, Argentina tidak hanya bermain dalam waktu yang diukur oleh jam, tetapi juga dalam waktu pengalaman. Mereka berusaha menangkap apa yang oleh orang Yunani disebut kairos: saat yang paling tepat untuk bertindak.
Jika Spanyol berusaha mengendalikan kesinambungan permainan, Argentina berusaha mengenali titik baliknya.
Bagi Argentina, pertandingan menyerupai permainan catur yang emosional. Mereka dapat bersabar, bertahan, bahkan tampak terdesak. Namun, ketika momen yang tepat datang, mereka menyerang dengan seluruh keberanian yang dimiliki.
Argentina seolah berkata kepada para penonton: Hidup tidak selalu dapat direncanakan secara sempurna. Karena itu, manusia harus memiliki keberanian, intuisi, dan hati untuk bertindak ketika kesempatan datang.
Itulah sebabnya menonton Argentina selalu mengasyikkan. Permainan mereka dapat menguras emosi dan membuat mata para penonton tetap terjaga hingga peluit akhir dibunyikan.
Baca Juga:
- Pemkot Makassar: Seleksi Pimpinan BAZNAS Libatkan BAZNAS RI dan Transparan
- PDAM Makassar dan Yonkav-10 Bahas Peningkatan Layanan Air Bersih Asrama Prajurit
- Wali Kota Makassar Instruksikan Camat Gelar Nobar Piala Dunia & Libatkan UMKM
Spanyol: Sepak Bola sebagai Geometri
Berbeda dari Argentina, Spanyol memahami sepak bola sebagai persoalan ruang, jarak, sudut, dan hubungan antarpemain.
Bola tidak bergerak secara sembarangan. Ia mengikuti struktur yang terus dibentuk dan dibentuk kembali selama pertandingan.
Tradisi tiki-taka memang telah mengalami perubahan. Permainan Spanyol kini tampak lebih langsung dan vertikal. Namun, keyakinan dasarnya masih terasa: bola merupakan sarana utama untuk mengatur pertandingan.
Cara berpikir mereka dapat dirumuskan sebagai berikut:
Barang siapa mampu mengatur ruang dan menguasai bola, ia mengatur kemungkinan permainan.
Ciri permainan mereka tampak dalam operan cepat, posisi pemain yang teratur, kombinasi jarak dekat, pembentukan segitiga, serta kesabaran memindahkan bola sampai ruang terbuka ditemukan.
Dengan kata lain, jika Argentina bermain seperti penyair, Spanyol bermain seperti arsitek.
Rasionalitas dan Keteraturan
Secara filosofis, permainan Spanyol dapat dibandingkan dengan tradisi rasionalisme. Rasionalisme percaya bahwa dunia yang tampak kacau sesungguhnya dapat dipahami melalui hubungan, struktur, dan pola tertentu.
Dalam permainan Spanyol, lapangan bukanlah ruang kosong. Lapangan merupakan jaringan koordinat. Setiap pemain menempati posisi yang memiliki hubungan dengan posisi pemain lain.
Seorang pemain tidak hanya bertanya, “Di mana bola berada?” Ia juga harus bertanya: “Di mana rekan saya?” “Di mana lawan?” “Ruang mana yang sedang terbuka?” “Ke mana lawan akan bergerak apabila bola dipindahkan?”
Dengan demikian, sepak bola menjadi semacam geometri yang bergerak. Garis dan segitiga tidak digambar di atas kertas, melainkan dibentuk melalui pergerakan tubuh manusia.
Tatanan yang Terus Bergerak
Geometri Spanyol bukanlah geometri yang kaku. Susunan pemain terus berubah mengikuti arah bola dan tekanan lawan.
Keteraturan tidak berarti bahwa semua pemain harus diam pada satu titik. Keteraturan berarti setiap pemain memahami kapan harus bergerak, ke mana harus bergerak, dan mengapa ia harus bergerak.
Di sini terlihat satu gagasan penting: keteraturan yang hidup berbeda dari keteraturan mekanis. Para pemain bukanlah mesin yang bergerak karena diprogram dari luar. Sebuah tim bergerak karena para pemain memahami prinsip permainan yang sama. Mereka mampu menafsirkan keadaan dan menyesuaikan posisi tanpa merusak struktur keseluruhan.
Karena itu, keteraturan permainan Spanyol membutuhkan kecerdasan individual yang sangat tinggi. Disiplin posisi bukanlah lawan dari kreativitas. Disiplin justru menciptakan ruang tempat kreativitas dapat muncul.
Menguasai Bola, Mengurangi Ketidakpastian
Ada pula dimensi filosofis lain dalam penguasaan bola. Sepak bola pada dasarnya adalah permainan yang tidak pasti. Bola dapat memantul ke arah yang tidak terduga, pemain dapat melakukan kesalahan, dan satu serangan dapat mengubah hasil pertandingan.
Spanyol berusaha mengurangi ketidakpastian tersebut melalui penguasaan bola. Cara berpikir mereka sederhana: Selama bola berada dalam penguasaan kami, lawan tidak dapat menggunakannya untuk menyerang.
Penguasaan bola bukan hanya gaya menyerang, tetapi juga cara mengelola risiko. Spanyol berusaha mengubah pertandingan yang liar menjadi permainan yang dapat dibaca dan dikendalikan.
Namun, di situlah paradoksnya. Terlalu mencintai keteraturan dapat membuat sebuah tim kehilangan keberanian untuk mengambil risiko. Geometri dapat menghasilkan keindahan, tetapi pertandingan tidak selalu dimenangkan oleh pola yang paling sempurna.
Kadang-kadang, kehidupan menuntut seseorang keluar dari pola dan memasuki wilayah yang belum sepenuhnya dapat dihitung.
Spanyol seolah berkata: Hidup dapat dijalani dengan baik apabila manusia memahami hubungan, menjaga keteraturan, dan menguasai keadaan sebelum keadaan menguasainya.
Prancis: Sepak Bola sebagai Kekuatan dan Efisiensi
Lain lagi dengan Prancis. Para pemain Prancis tidak selalu berusaha memperlihatkan sepak bola yang paling rumit atau paling indah. Mereka lebih tertarik memainkan sepak bola yang menghasilkan kemenangan.
Tim ini dapat membiarkan lawan lebih banyak menguasai bola, mempertahankan bentuk permainan, kemudian menyerang dengan cepat ketika ruang terbuka. Kecepatan, kekuatan fisik, kemampuan memenangkan duel, dan kualitas individual menjadi sumber daya utama mereka.
Filosofinya dapat dirumuskan sebagai berikut: Tidak semua gerakan memiliki nilai yang sama. Tindakan terbaik adalah tindakan yang menghasilkan dampak terbesar.
Prancis melihat pertandingan sebagai persoalan efektivitas. Mereka tidak merasa harus menguasai setiap menit pertandingan. Mereka cukup menguasai beberapa detik yang paling menentukan.
Cara bermain tersebut ditopang oleh pemain-pemain—Sebagian bear adalah para migran Afrika-- dengan kemampuan atletik, teknik, dan kecepatan yang luar biasa. Kylian Mbappé dan Ousmane Dembélé, misalnya, dapat mengubah arah pertandingan hanya melalui satu akselerasi atau satu keputusan yang tepat.
Rasionalitas Instrumental
Secara filosofis, pendekatan Prancis dekat dengan rasionalitas instrumental: tindakan dinilai terutama berdasarkan kemampuannya mencapai tujuan.
Pertanyaan utama mereka bukan, “Apakah permainan ini indah?” melainkan, “Apakah cara bermain ini dapat membawa kami menuju kemenangan?”
Dalam pandangan tersebut, penguasaan bola, jumlah operan, dan dominasi wilayah bukanlah tujuan akhir. Semuanya hanyalah alat.
Apabila kemenangan dapat dicapai tanpa mendominasi bola, dominasi tidak perlu dipaksakan.
Para pemain Prancis tampaknya memahami perbedaan antara aktivitas dan efektivitas. Sebuah tim dapat melakukan lebih banyak operan, lebih banyak berlari, dan lebih lama menyerang, tetapi belum tentu lebih dekat kepada kemenangan.
Ekonomi Tenaga
Permainan Prancis juga dapat dilihat sebagai bentuk ekonomi tindakan. Energi tidak dikeluarkan secara merata sepanjang pertandingan, melainkan disimpan dan dilepaskan pada momen yang paling menguntungkan.
Mereka dapat bertahan dengan kompak, menunggu kesalahan lawan, kemudian hanya membutuhkan beberapa operan untuk mencapai kotak penalti.
Cara bermain ini mengingatkan kita bahwa kekuatan bukan hanya kemampuan untuk terus bergerak. Kekuatan juga merupakan kemampuan menahan diri.
Dalam banyak hal, menunggu membutuhkan disiplin yang lebih besar daripada menyerang. Para pemain harus menerima bahwa lawan tampak dominan tanpa kehilangan keyakinan terhadap rencana mereka sendiri.
Potensi dan Aktualisasi
Kecepatan seorang penyerang atau kekuatan seorang gelandang merupakan potensi. Namun, potensi baru memiliki arti apabila dapat diwujudkan dalam situasi yang tepat.
Prancis tidak harus memperlihatkan seluruh kekuatannya sepanjang pertandingan. Mereka hanya perlu menciptakan keadaan ketika kekuatan tersebut dapat menghasilkan dampak maksimal.
Itulah sebabnya permainan mereka sering tampak sederhana, tetapi berbahaya. Kesederhanaan tersebut bukan berarti kekurangan gagasan. Ia lahir dari kemampuan menyaring tindakan yang tidak diperlukan.
Namun, pragmatisme juga memiliki batas. Apabila segala sesuatu hanya dinilai dari hasil, permainan dapat kehilangan dimensi keindahan dan keberanian moralnya. Sepak bola bukan hanya tentang menang, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kemenangan diraih dan kemudian dikenang.
Prancis seolah berkata: Hidup tidak dimenangkan oleh orang yang paling sibuk, tetapi oleh orang yang mengetahui kapan dan di mana kekuatannya harus digunakan.
Inggris: Sepak Bola sebagai Organisasi
Bagaimana dengan Inggris? Tim Inggris modern tidak lagi dapat digambarkan hanya melalui bola panjang, duel udara, dan umpan silang.
Permainan mereka telah berkembang menjadi perpaduan antara teknik, atletisme, tekanan terhadap lawan, disiplin posisi, bola mati, dan serangan vertikal.
Filosofinya dapat dirumuskan sebagai berikut: Bakat individual hanya akan menjadi kekuatan apabila ditempatkan dalam struktur yang dapat dipercaya.
Itulah sebabnya tidak semua pemain berbakat otomatis mendapat tempat di dalam tim. Pelatih membutuhkan pemain yang tidak hanya memiliki kemampuan individual, tetapi juga mampu mendukung sistem permainan secara keseluruhan.
Inggris menempatkan organisasi sebagai dasar permainan. Jarak antarlini harus terjaga, tekanan dilakukan secara bersama-sama, pertahanan bergerak sebagai satu kesatuan, dan transisi dijalankan melalui pola yang telah dipahami.
Institusi Mendahului Individu
Secara filosofis, permainan Inggris dapat dibaca melalui pentingnya institusi. Sebuah institusi dibentuk agar tindakan banyak orang dapat diorganisasi dan diarahkan menuju tujuan bersama.
Dalam sepak bola, organisasi menjalankan fungsi serupa. Struktur membuat sebelas pemain tidak bergerak sebagai sebelas individu yang terpisah, melainkan sebagai satu tubuh kolektif.
Ketika seorang pemain menekan lawan, pemain lain harus menutup jalur operan. Ketika seorang bek maju, pemain lain harus menjaga ruang yang ditinggalkan. Setiap tindakan individual memperoleh makna melalui respons kolektif.
Bagi Inggris, organisasi bukan sekadar susunan pemain. Organisasi adalah sistem kepercayaan. Setiap pemain berani menjalankan tugasnya karena percaya bahwa pemain lain juga akan menjalankan tugas mereka.
Disiplin sebagai Kebebasan Kolektif
Disiplin sering dianggap sebagai pembatas kebebasan. Namun, dalam permainan tim, disiplin justru memungkinkan kebebasan diungkapkan secara kolektif.
Seorang penyerang dapat mengambil risiko karena mengetahui bahwa struktur di belakangnya tetap terjaga. Seorang bek sayap dapat maju karena gelandang memahami ruang yang harus ditutup.
Aturan bersama membuat pemain tidak perlu terus-menerus meragukan tindakan rekan setimnya. Dalam pengertian ini, disiplin bukanlah ketaatan buta. Disiplin adalah kesediaan membatasi sebagian kebebasan pribadi agar tim memperoleh kemungkinan yang lebih besar.
Sepak Bola sebagai Tindakan Terkoordinasi
Inggris memperlihatkan bahwa kompleksitas tidak selalu harus dihadapi melalui improvisasi. Kompleksitas dapat dikelola melalui pembagian tugas, komunikasi, latihan, dan prosedur yang jelas.
Hal itu tampak terutama dalam tekanan terhadap lawan dan situasi bola mati. Sebuah tendangan sudut yang terlihat sederhana sesungguhnya dapat melibatkan pembagian ruang, gerakan pengalih perhatian, penutupan jalur pemain bertahan, dan penentuan titik jatuh bola.
Organisasi mengubah kejadian yang tampak acak menjadi peluang yang telah dipersiapkan. Namun, struktur juga menghadirkan bahaya. Apabila terlalu kaku, struktur dapat membuat pemain takut mengambil inisiatif.
Organisasi yang sehat harus cukup kuat untuk memberikan stabilitas, tetapi juga cukup lentur untuk menerima kreativitas.
Inggris seolah berkata: Hidup tidak hanya membutuhkan orang-orang berbakat. Hidup membutuhkan kepercayaan, pembagian peran, dan institusi yang membuat berbagai bakat dapat bekerja bersama.
Empat Cara Berpikir
Jika disimak secara mendalam, keempat tim tersebut seolah mewakili empat jawaban atas satu pertanyaan yang sama: bagaimana manusia harus bertindak di tengah dunia yang tidak pasti?
Argentina menjawab:
Hadapilah ketidakpastian dengan keberanian, intuisi, dan kebersamaan.
Spanyol menjawab:
Kurangi ketidakpastian melalui pengetahuan, keteraturan, dan penguasaan ruang.
Prancis menjawab:
Tidak perlu mengendalikan semuanya; kuasailah tindakan yang paling menentukan.
Inggris menjawab:
Bangunlah struktur yang membuat banyak orang mampu bertindak sebagai satu kesatuan.
Tentu saja, tidak satu pun dari keempat jawaban tersebut sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Kreativitas tanpa struktur dapat berubah menjadi kekacauan. Struktur tanpa kreativitas menjadi mekanis. Efisiensi tanpa keberanian dapat berubah menjadi sikap pasif. Penguasaan tanpa ketajaman hanya menghasilkan dominasi semu.
Dalam pertandingan semifinal nanti, tim terbaik bukanlah tim yang mempertahankan satu nilai secara mutlak, melainkan tim yang mampu menyeimbangkan berbagai nilai tersebut.
Argentina membutuhkan organisasi. Spanyol membutuhkan keberanian untuk mengambil risiko. Prancis membutuhkan kreativitas. Inggris membutuhkan improvisasi.Setiap filsafat menjadi matang justru ketika menyadari keterbatasannya sendiri dan berusaha melampauinya.
Semifinal Piala Dunia 2026 terasa istimewa karena bukan hanya empat tim terkiat di dunia yang saling berhadapan. Di sana, empat gagasan tentang permainan juga sedang diuji.
Argentina membawa sepak bola sebagai seni perjuangan yang gigih. Spanyol membawa sepak bola sebagai geometri ruang. Prancis membawa sepak bola sebagai ekonomi kekuatan. Inggris membawa sepak bola sebagai organisasi kolektif.
Pertandingan Prancis melawan Spanyol akan mempertemukan efisiensi dengan penguasaan. Prancis tidak harus memiliki bola untuk merasa memegang kendali, sedangkan Spanyol berusaha mengendalikan pertandingan melalui bola.
Pertandingan Inggris melawan Argentina akan mempertemukan struktur dengan improvisasi. Inggris berusaha menciptakan kestabilan melalui organisasi, sedangkan Argentina mencari celah tempat intuisi, pengalaman, dan keberanian dapat menentukan pertandingan.
Namun, hasil pertandingan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling setia kepada filosofinya. Pemenangnya justru dapat menjadi tim yang paling mampu melampaui keterbatasan filosofinya sendiri.
Spanyol mungkin harus belajar menang tanpa selalu menguasai bola. Prancis mungkin harus mengambil inisiatif lebih besar. Inggris mungkin membutuhkan keberanian untuk berimprovisasi. Argentina mungkin harus mempertahankan disiplin dan struktur ketika berada di bawah tekanan.
Dengan kata lain, kemenangan tidak hanya diraih melalui identitas, tetapi juga melalui kemampuan untuk berubah tanpa kehilangan diri.
Sepak Bola dan Keterbatasan Manusia
Marilah menikmati pertandingan semifinal tanpa terburu-buru memastikan tim mana yang akan keluar sebagai pemenang.
Prancis tampak kuat, tetapi mereka tidak boleh meremehkan Spanyol yang bergerak secara geometris. Inggris tampak terorganisasi, tetapi mereka juga tidak dapat meremehkan seni dan daya juang Argentina yang berani mengambil risiko melalui improvisasi.
Lebih dari itu, Piala Dunia selalu lebih besar daripada sekadar turnamen olahraga. Ia merupakan panggung tempat berbagai tradisi, ingatan, gaya bermain, dan cara memahami kehidupan saling berjumpa.
Melalui sepak bola, manusia sesungguhnya sedang memperdebatkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat tua: Apakah hidup harus dikendalikan atau dijalani dengan keberanian?
Apakah kemenangan lahir dari keteraturan atau improvisasi? Apakah kekuatan harus diperlihatkan terus-menerus atau disimpan untuk saat yang menentukan? Apakah individu menciptakan sistem, atau justru sistemlah yang memungkinkan individu berkembang?
Sepak bola tidak memberikan satu jawaban final. Ia mempertemukan berbagai jawaban di atas lapangan dan membiarkan pertandingan mengujinya.
Namun, hasil akhir tidak selalu membuktikan bahwa filsafat yang dianut oleh pemenang merupakan filsafat yang paling benar.
Dalam satu pertandingan, keberuntungan, kesalahan pemain, keputusan wasit, dan kejadian yang tidak terduga tetap dapat menentukan hasil.
Sepak bola mengajarkan bahwa manusia dapat merancang, berlatih, dan menghitung, tetapi tidak pernah memiliki kuasa mutlak atas kenyataan. Mungkin justru di situlah letak pesonanya.
Kita pun dapat memahami mengapa seorang pemain seperti Messi mengangkat wajah dan tangannya ke langit sambil membuat tanda salib setelah mencetak gol, atau mengapa pemain Muslim melakukan sujud syukur.
Tindakan tersebut dapat dibaca sebagai ungkapan rasa syukur dan penyerahan diri—kesadaran bahwa kehidupan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kecerdasan dan kekuatan manusia sendiri.
Di atas lapangan, manusia berusaha menciptakan keteraturan di tengah ketidakpastian. Ia menggunakan akal, tubuh, keberanian, dan kepercayaan kepada sesamanya.
Ia dapat kalah meskipun bermain dengan baik. Sebaliknya, ia juga dapat menang meskipun sempat tertekan dan menderita.
Karena itu, Piala Dunia bukan hanya panggung untuk menentukan negara mana yang paling kuat dan berhak mengangkat trofi.
Piala Dunia adalah panggung tempat berbagai cara manusia memahami permainan—dan melalui permainan itu, memahami kehidupan—saling berjumpa.
Berbagai cara memahami permainan dan kehidupan tersebut bertarung, saling mengoreksi, dan pada akhirnya saling memperkaya.
Barangkali, di situlah sebuah peradaban terus bertumbuh: bukan ketika satu cara berpikir memusnahkan cara berpikir lainnya, melainkan ketika semuanya bersedia berjumpa, diuji, dikoreksi, dan diperkaya.
Catatan - Redaksi Makassar Insight menerima tulisa berupa analisis dan opini. Silahlan kirim tulisan Anda ke email - redaksi@makassarinsight.com - tulisan yang memenuhi kriteria redaksi akan kami tayangkan. Salam.
Tulisan ini telah tayang di floresku.com oleh Redaksi pada 13 Jul 2026
