Selasa, 27 Januari 2026 12:00 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com – Bukan sektor olahraga apalagi teknologi, berdasarkan data global Points of Interest dari OpenStreetMap, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kedai kopi dan kafe terbanyak di dunia, mengalahkan Amerika Serikat dan China. Per November 2025, terdapat 461.991 lokasi usaha kopi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dilansir dari seasia.co, fenomena tersebut menunjukkan pertumbuhan usaha kopi yang kini menjangkau hingga ke pedesaan. Angka ini menempatkan Indonesia di peta global sebagai pusat aktivitas kopi, tidak lagi semata-mata dikenal sebagai penghasil biji kopi.
Pertumbuhan kedai kopi yang pesat turut dipacu oleh kebiasaan minum kopi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Beragam kedai hadir tidak hanya sebagai tempat menikmati minuman, tetapi juga berfungsi sebagai ruang berkumpul, bekerja, dan berinteraksi sosial.
Baca Juga:
Hampir 462 ribu titik usaha tersebut menggambarkan ekosistem yang beragam. Indonesia memiliki segalanya, mulai dari warung kopi tradisional, gerai grab-and-go, hingga specialty café modern yang menyajikan biji kopi single origin.
Kedai-kedai bergaya minimalis dengan sajian kopi Gayo, Toraja, Kintamani, hingga Flores hadir berdampingan dengan warung kopi legendaris yang tetap mempertahankan harga ramah kantong. Kondisi ini menjadikan kopi di Indonesia semakin demokratis, bukan lagi sekadar simbol gaya hidup eksklusif, melainkan bagian dari rutinitas harian yang dinikmati lintas kelas sosial.
Generasi Z (Gen Z) kini memimpin perubahan gaya hidup baru, yaitu memilih mengganti segelas koktail dengan secangkir latte atau matcha. Memang, pergi ke pub atau bar telah menjadi cara utama bagi kaum muda untuk bersosialisasi di seluruh negeri, namun, tampaknya zaman telah berubah.
Tampaknya kebiasaan minum Gen Z berubah secara signifikan, dengan semakin banyak dari generasi ini yang mengadopsi gaya hidup yang cenderung menghindari alkohol. Data global dan nasional menunjukkan bagi Gen Z, konsumsi minuman beralkohol tidak lagi cara bersenang-senang.
Dilansir dari The Indiana Express, bagi Kashish Bhatia, seorang mahasiswi di FAD International Academy, perubahan ini terasa lebih besar daripada sekadar kafein. Ia melihatnya sebagai pergeseran generasi.
“Generasi milenial memiliki budaya pesta yang sangat intens, dengan alkohol, minum-minum, dan bersenang-senang secara berlebihan Tetapi Generasi Z minum lebih sedikit. Lebih bersifat sosial, terkadang tidak minum sama sekali,” katanya.
Fenomena ini terlihat pula di negara-negara dengan tradisi minum yang kuat seperti Inggris, di mana angkanya terus menurun. Sebagai gantinya, muncul perubahan gaya hidup yang lebih luas mulai dari rutinitas pagi dengan matcha, kelas pilates, estetika minimalis, praktik kebugaran, hingga meningkatnya ketertarikan pada spiritualitas.
Bukan dalam makna religius konvensional, melainkan pengalaman berbasis komunitas yang memberi rasa tenang dan membumi, alih-alih merusak.
Adapun, bagi banyak Gen Z, keuangan adalah faktor praktis. Meningkatnya biaya hidup membuat pendapatan yang dapat dibelanjakan semakin terbatas, dan keluar malam dengan minuman beralkohol menjadi pilihan yang lebih membebani anggaran.
Bar, kehidupan malam, dan kegiatan sosial yang berpusat pada alkohol bisa mahal, mendorong sebagian anak muda untuk memilih pertemuan di rumah atau alternatif non-alkohol.
Dilansir dari Mintel, bersantai adalah alasan paling populer untuk minum alkohol di semua generasi. Namun, Generasi Z menonjol dari generasi yang lebih tua dalam hal seberapa sedikit alkohol digunakan sebagai penyegar atau untuk meningkatkan cita rasa makanan.
Kontras dalam penggunaan alkohol ini menunjukkan bahwa, bagi Generasi Z, alkohol adalah hiburan sesekali, sedangkan bagi generasi yang lebih tua, alkohol dianggap sebagai minuman penyegar yang rutin dan menenangkan.
US National Institute on Drug Abuse (NIDA) mencatat adanya penurunan tajam dalam konsumsi alkohol di kalangan remaja sejak awal dekade 2000-an. Fenomena ini menjadi penanda kuat terjadinya pergeseran gaya hidup generasi muda secara global.
Forbes juga melaporkan, 21% Gen Z menyatakan tidak mengonsumsi alkohol sama sekali, sementara 39% lainnya hanya minum sesekali. Alasan utama di balik pilihan ini berkaitan dengan faktor kesehatan fisik dan mental, serta minimnya ketertarikan terhadap alkohol.
Angka tersebut tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan generasi Milenial maupun Gen X pada rentang usia yang sama. Keputusan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan keinginan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat.
Sementara, berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), tingkat konsumsi alkohol di Indonesia tercatat sebesar 0,8 liter per kapita per tahun, salah satu yang paling rendah di dunia. Dan kopi menjadi alternatif minuman Gen Z.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, konsumsi alkohol penduduk berusia 15 tahun ke atas hanya mencapai 0,30 liter per kapita. BPS juga menegaskan bahwa penurunan konsumsi alkohol tersebut telah berlangsung secara konsisten sejak 2023.
Data International Coffee Organization (ICO) dan laporan USDA menunjukkan peningkatan tajam dalam konsumsi kopi domestik. Pada 2010, konsumsi kopi di Indonesia tercatat sekitar 190 ribu ton, dan melonjak menjadi lebih dari 370 ribu ton pada 2023, dengan tren pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Survei global State of Beverages menunjukkan lebih dari 60% Gen Z memilih minuman non-alkohol saat bersosialisasi, angka tertinggi dibandingkan generasi lainnya. Saat ini, Gen Z cenderung memilih minuman seperti kopi dan matcha, yang belakangan sering menjadi menu wajib atau andalan ala Gen Z saat nongkrong, mengerjakan tugas, hingga melepas penat.
Popularitas kopi dan matcha terus menunjukkan peningkatan. Survei Jakpat menunjukkan 66% Gen Z di Indonesia rutin mengonsumsi kopi, sementara laporan Restaurant Business mencatat sekitar 40% Gen Z pernah memesan matcha dalam enam bulan terakhir.
Hal ini menegaskan kopi dan matcha bukan sekadar minuman, namun menjadi simbol gaya hidup baru di kalangan generasi muda.
Pertumbuhan dan konsumsi kopi di Indonesia yang terus terjadi setiap tahun membuka berbagai peluang baru bagi pelaku usaha. Kondisi ini mendorong pesatnya pertumbuhan kedai kopi atau coffee shop di berbagai daerah.
Baca Juga:
Munculnya coffee shop turut membentuk perubahan gaya hidup sekaligus menjadi tren baru dalam cara masyarakat menikmati kopi. Seiring menguatnya budaya minum kopi, bisnis kedai kopi pun dapat dikatakan memiliki prospek yang cukup menjanjikan.
Menghindari alkohol bukanlah soal superioritas moral, melainkan sekadar pilihan gaya hidup. Bagi generasi yang kerap membentuk identitas melalui media sosial, kopi telah berevolusi melampaui fungsi sebagai minuman, ia menjadi bagian dari kepribadian, rutinitas, bahkan bentuk ekspresi diri.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 27 Jan 2026