Komunitas
Ojol Seolah Menghilang Saat Bulan Ramadan? Ini Alasannya
MAKASSARINSIGHT.com – Layanan ojek online (ojol) kerap sulit didapatkan menjelang waktu berbuka puasa selama Ramadan. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan permintaan masyarakat yang pulang bersamaan dari kawasan perkantoran.
Data mobilitas masyarakat Jakarta yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa permintaan ojol meningkat sekitar 30% hingga 50% pada pukul 16.00–18.00 WIB selama Ramadan.
Kawasan perkantoran seperti Sudirman, Thamrin, hingga Kuningan menjadi titik dengan permintaan tertinggi karena ribuan orang memesan kendaraan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Lonjakan permintaan ini tidak selalu diimbangi dengan jumlah pengemudi yang aktif. Survei komunitas driver online juga menunjukkan sekitar 60% hingga 70% pengemudi memilih mematikan aplikasi atau off-bid sekitar 30 menit sebelum azan Magrib.
Baca Juga:
- Pemkot Makassar–Kejari Teken MoU Pengawasan Pajak Daerah
- DPRD Makassar Minta Relokasi PKL Losari Ditunda Usai Lebaran
- Pemkot Makassar Pastikan PPPK Paruh Waktu Terima THR 2026
Direktur Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, mengakui adanya keluhan dari pengguna terkait waktu tunggu untuk mendapatkan pengemudi yang terasa lebih lama dalam beberapa hari terakhir, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
"Hal ini terjadi karena dalam beberapa waktu terakhir permintaan layanan mobilitas maupun pengantaran, termasuk GrabExpress, GrabFood, dan layanan lainnya, mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pada saat yang sama, ketersediaan Mitra Pengemudi juga turut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi cuaca hujan ekstrem yang sempat menyebabkan banjir di sejumlah ruas jalan, serta kepadatan lalu lintas yang lebih tinggi dari biasanya," ujar Tyas, dikutip Jumat, 13 Maret 2026.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa secara umum layanan Grab masih beroperasi normal. Namun, pada waktu tertentu dan di area dengan permintaan tinggi, sebagian pengguna memang dapat mengalami waktu tunggu yang lebih lama dibandingkan biasanya.
Informasi yang dihimpun TrenAsia, para pengemudi biasanya memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari tempat berbuka puasa, beristirahat, atau menunaikan ibadah salat. Kondisi ini membuat sistem aplikasi kesulitan mencocokkan penumpang dengan pengemudi yang tersedia.
Selain itu, faktor kemacetan juga memengaruhi keputusan pengemudi dalam menerima pesanan. Riset mobilitas urban menunjukkan kecepatan kendaraan di Jakarta saat sore hari selama Ramadan dapat turun hingga di bawah 10 kilometer per jam.
Situasi tersebut membuat perjalanan menjadi lebih lama, sementara konsumsi bahan bakar meningkat. Tidak sedikit pengemudi yang akhirnya memilih menghindari rute-rute padat lalu lintas.
Tekanan dari pelanggan juga menjadi salah satu faktor. Pada jam sibuk Ramadan, keterlambatan akibat kemacetan kerap berujung pada penilaian rendah dari pelanggan, padahal kondisi tersebut sering kali berada di luar kendali pengemudi. Akibatnya, sebagian pengemudi lebih memilih beristirahat atau mengambil pesanan di area yang tidak terlalu padat.
Baca Juga:
- Kemenhut Terima Tokyo Gas-Hanwa, Bahas Pengelolaan Hutan
- JMSI Sulsel Resmikan Kantor Baru, Perkuat Peran Media Siber di Daerah
- Atasi Banjir Manggala, Pemkot Makassar Normalisasi Drainase
Alternatif Transportasi Saat Ojol Sulit Didapat
Ketika layanan ojol sulit ditemukan, masyarakat Jakarta sebenarnya memiliki sejumlah alternatif transportasi umum yang dapat digunakan untuk mobilitas harian.
1. TransJakarta

Bus TransJakarta menjadi salah satu moda transportasi yang paling terjangkau. Layanan bus rapid transit ini melayani rute di berbagai wilayah Jakarta hingga kota penyangga. Tarif TransJakarta pun juga relatif murah, yaitu Rp3.500 per perjalanan untuk layanan reguler. Selain itu, sistem pembayarannya sangat mudah, bisa menggunakan kartu uang elektronik seperti e-money atau QRIS.
2. KRL Commuter Line

Kereta rel listrik (KRL) melayani perjalanan dari Jakarta menuju wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi. Tarifnya pun relatif murah dihitung berdasarkan jarak perjalanan. Untuk jarak pendek, tarif dimulai dari Rp3.000 di 25 kilometer pertama, kemudian bertambah Rp1.000 setiap 10 kilometer berikutnya.
Kini, KRL menjadi salah satu moda transportasi dengan kapasitas penumpang besar sehingga tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat.
3. MRT Jakarta

Moda Raya Terpadu (MRT) menghubungkan Lebak Bulus hingga Bundaran HI dengan jalur sepanjang lebih dari 15 kilometer. Tarif MRT dihitung berdasarkan jarak tempuh, dengan tarif mulai dari sekitar Rp3.000 hingga Rp14.000. Transportasi ini dikenal lebih cepat karena menggunakan jalur khusus sehingga tidak terpengaruh kemacetan.
Dengan berbagai pilihan transportasi tersebut, masyarakat tetap memiliki alternatif mobilitas ketika layanan ojol sulit ditemukan, terutama pada jam sibuk menjelang berbuka puasa selama Ramadan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 13 Mar 2026
