Sabtu, 22 Agustus 2026 21:09 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com – Bisnis laundry, kos-kosan, frozen food, produk kecantikan, gaming, hingga menjadi kreator konten kini tidak lagi sekadar dianggap sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan. Seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, berbagai bisnis tersebut justru berkembang menjadi peluang usaha yang menjanjikan dan mampu menghasilkan pendapatan besar.
Namun, perkembangan gaya hidup, urbanisasi, digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen membuat sejumlah bisnis tersebut berkembang menjadi industri dengan nilai ekonomi sangat besar.
Tidak sedikit sektor yang berawal dari usaha rumahan kini memiliki pasar hingga miliaran bahkan triliunan rupiah, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan menjadi bagian penting dari ekonomi digital serta ekonomi kreatif Indonesia.
Lantas, apa saja bisnis yang dulu dianggap receh tetapi kini berubah menjadi industri besar?
Baca Juga:
Bisnis laundry menjadi salah satu contoh paling jelas perubahan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Dahulu, laundry identik dengan jasa mencuci pakaian di sekitar lingkungan tempat tinggal. Kini, industri tersebut berkembang menjadi layanan profesional dengan sistem pickup and delivery, aplikasi, layanan berlangganan hingga laundry komersial.
Pasar online laundry services di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$1,1 miliar, atau sekitar Rp17 triliun. Sementara itu, pasar laundry komersial berbasis mesin koin (coin-operated laundry) juga diperkirakan mencapai sekitar US$1,15 miliar.
Secara keseluruhan, nilai industri laundry Indonesia diperkirakan berada di kisaran Rp20 triliun per tahun. Pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat.
Urbanisasi membuat semakin banyak orang tinggal di kawasan perkotaan dengan waktu yang terbatas. Pekerja profesional, mahasiswa dan keluarga dengan dua sumber pendapatan (dual-income household) semakin memilih membayar jasa laundry daripada menghabiskan waktu untuk mencuci dan menyetrika sendiri.
Digitalisasi kemudian mempercepat perubahan tersebut. Konsumen kini dapat memesan laundry melalui aplikasi, menentukan jadwal pengambilan pakaian, memantau proses pencucian dan menerima pakaian kembali tanpa perlu datang ke gerai.
Dari sisi tenaga kerja, Jaringan Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) disebut telah menaungi sekitar 34.000 pekerja, baik formal maupun informal.
Jumlah perusahaan laundry di Indonesia juga mencapai sekitar 131.812 unit pada 2024, menunjukkan industri ini sangat besar tetapi masih terfragmentasi.
Artinya, bisnis laundry bukan lagi sekadar usaha sampingan. Perubahan gaya hidup telah mengubah jasa mencuci pakaian menjadi sebuah industri jasa perkotaan.
Bisnis kos-kosan juga mengalami perubahan besar. Dulu, menyewakan beberapa kamar di rumah sering dianggap sebagai cara sederhana untuk mendapatkan pendapatan tambahan.
Kini, kos-kosan berkembang menjadi bisnis properti yang dikelola secara profesional.
Di kota-kota pendidikan dan pusat ekonomi seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Bali, kos-kosan menjadi bagian dari ekosistem hunian bagi mahasiswa, pekerja, maupun pendatang.
Skalanya juga semakin besar, kos dengan 10 kamar dapat membutuhkan modal sekitar ratusan juta hingga lebih dari Rp1 miliar. Sementara properti dengan puluhan kamar dapat memiliki nilai hingga puluhan miliar rupiah.
Bahkan, konsep co-living membuat bisnis kos semakin menyerupai industri hospitality. Platform seperti Cove menunjukkan besarnya pasar hunian sewa di Indonesia. Dari lebih dari 6.000 kamar yang ditawarkan pada 2024, sekitar 4.500 kamar berada di Indonesia.
Daya tarik utama bisnis kos terletak pada potensi recurring income. Berbeda dengan bisnis yang harus menjual produk baru setiap hari, pemilik kos dapat memperoleh pendapatan bulanan dari penyewa selama tingkat okupansi tetap terjaga.
Namun, bisnis kos bukan berarti investasi tanpa risiko. Pemilik tetap harus memperhitungkan biaya pembangunan, renovasi, perawatan, pajak, utilitas, tingkat kekosongan kamar dan periode balik modal.
Dengan demikian, kos-kosan kini tidak lagi sekadar "punya kamar lalu disewakan", tetapi telah berkembang menjadi bisnis properti yang membutuhkan pengelolaan aset dan strategi pemasaran.
Perubahan gaya hidup juga mengubah cara masyarakat membeli makanan. Kesibukan pekerja, meningkatnya jumlah keluarga kecil dan kebutuhan akan makanan praktis membuat frozen food semakin populer.
Industri makanan beku Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sekitar 7,5% pada 2025-2030.
Permintaan terhadap makanan beku juga disebut meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Produk seperti nugget, sosis, bakso, ayam, seafood dan makanan siap masak menjadi semakin mudah ditemukan, bukan hanya di supermarket tetapi juga minimarket, toko kelontong, marketplace dan kanal penjualan digital.
Salah satu faktor pendorongnya adalah perubahan struktur rumah tangga. Keluarga dengan anggota rumah tangga yang lebih sedikit cenderung membutuhkan produk makanan yang praktis, mudah disimpan dan dapat dikonsumsi secara bertahap.
Pada saat yang sama, industri frozen food juga mengalami premiumisasi. Produk makanan beku tidak lagi hanya identik dengan makanan murah. Produsen mulai menawarkan produk premium dengan klaim kualitas bahan, nutrisi, hingga produk berbasis protein tertentu.
Artinya, frozen food telah berubah dari sekadar stok makanan di freezer menjadi bagian dari industri pangan modern.
Jika ada sektor yang paling cepat mengubah persepsi terhadap bisnis "rumahan", industri kecantikan adalah salah satunya. Produk skincare, kosmetik, parfum dan personal care yang dahulu banyak diproduksi dalam skala kecil kini telah berkembang menjadi industri bernilai sangat besar.
Nilai industri kecantikan Indonesia diperkirakan berada di kisaran Rp158 triliun hingga Rp161 triliun pada 2025. Pertumbuhannya berada di kisaran 4,3% per tahun.
Yang menarik, industri ini tidak hanya dikuasai perusahaan besar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat jumlah perusahaan kosmetik Indonesia terus bertambah, dengan lebih dari 90% pelaku industri berasal dari UMKM.
Digitalisasi turut mengubah cara produk kecantikan dipasarkan. Media sosial, influencer marketing, live shopping, marketplace dan konten edukasi membuat sebuah merek lokal dapat menjangkau konsumen di seluruh Indonesia tanpa harus membangun jaringan toko fisik yang besar.
Inilah yang membuat bisnis beauty memiliki hambatan masuk yang berbeda dibandingkan masa lalu. Sebuah merek baru dapat membangun komunitas terlebih dahulu, kemudian mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan konsumennya.
Potensinya bahkan tidak berhenti di pasar domestik. Produk kosmetik Indonesia juga mulai memasuki pasar ekspor, menunjukkan bahwa industri yang awalnya banyak dianggap sebagai bisnis rumahan telah berkembang menjadi salah satu sektor manufaktur dan ekonomi kreatif yang potensial.
Baca Juga:
Gaming juga mengalami perubahan persepsi yang besar. Dahulu bermain game lebih sering dianggap sebagai hiburan atau bahkan aktivitas yang membuang waktu.
Kini, gaming telah menjadi industri dengan ekosistem bisnis yang luas. Mulai dari pengembang game, publisher, perangkat keras, iklan digital, pembelian dalam aplikasi, turnamen esports, streaming, hingga pembuatan konten.
Lembaga konsultan keuangan PwC, menilai pasar gaming dan esports Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar US$1,25 miliar. PwC juga memproyeksikan pendapatan sektor ini dapat mencapai sekitar US$2,4 miliar pada 2029.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh penetrasi smartphone, perkembangan jaringan internet, termasuk 5G, serta besarnya populasi muda Indonesia. Ekosistem gaming Indonesia juga telah diisi berbagai perusahaan dan pengembang, mulai dari perusahaan global hingga studio lokal.
Dengan demikian, seseorang yang bermain game secara profesional, membuat game, menjadi streamer atau mengembangkan komunitas gaming kini dapat berada di dalam rantai industri yang bernilai besar. Gaming tidak lagi sekadar permainan, gaming telah menjadi ekonomi.
Perubahan paling drastis mungkin terjadi pada profesi kreator konten. Beberapa tahun lalu, menjadi YouTuber, TikToker atau influencer sering dianggap sebagai pekerjaan sampingan.
Kini, creator economy telah berkembang menjadi ekosistem bisnis yang melibatkan jutaan orang. Data mengenai kontribusi YouTube menunjukkan besarnya dampak ekonomi sektor tersebut di Indonesia.
Berdasarkan paparan data YouTube Impact Report/Oxford Economics yang sampaikan Google Indonesia, ekosistem YouTube diperkirakan memberikan kontribusi sekitar Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia pada 2025 dan mendukung 27,4 juta pekerjaan dalam ekosistem ekonomi kreatif.
Selain itu, lebih dari 190.000 pekerjaan penuh waktu disebut terkait dengan aktivitas ekonomi YouTube.
Besarnya creator economy tidak hanya berasal dari pendapatan iklan. Kreator kini memperoleh pendapatan dari berbagai sumber, seperti brand partnership, afiliasi, penjualan produk, membership, live streaming, merchandise hingga membangun bisnis sendiri.
Konten bahkan dapat menjadi saluran distribusi bagi bisnis. Seorang kreator tidak harus memiliki pabrik untuk menghasilkan nilai ekonomi. Dengan kamera, koneksi internet, kreativitas dan audiens, seseorang dapat membangun bisnis berbasis perhatian (attention economy).
Perkembangan AI generatif juga berpotensi memperbesar industri tersebut. Teknologi AI dapat membantu kreator dalam produksi naskah, penyuntingan video, desain, penerjemahan, hingga distribusi konten ke berbagai pasar. Artinya, hambatan untuk memasuki industri kreatif semakin rendah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 22 Aug 2026