Ternyata Di Balik Gelar Barcelona, Ada Sistem Demokrasi ala Koperasi

Klub Barcelona merayakan gelar ke-29 La Liga bersama para pendukungnya di jalanan Catalonia. (ESPN)

MAKASSARINSIGHT.com – Euforia kemenangan FC Barcelona setelah memastikan gelar La Liga 2025/2026 kembali menegaskan posisi klub asal Catalan itu sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia. Gelar liga ke-29 diraih Barcelona usai menundukkan rival abadinya, Real Madrid, dalam laga El Clasico di Spotify Camp Nou.

Namun di balik deretan trofi dan nilai bisnis fantastisnya, ada satu hal yang membuat Barcelona berbeda dari sebagian besar klub elite dunia. Klub ini bukan dimiliki konglomerat, negara, ataupun investor swasta, melainkan para anggotanya sendiri.

Lewat sistem socios, Barcelona dikelola layaknya koperasi modern dengan prinsip demokrasi anggota. Para anggota klub memiliki hak suara untuk menentukan arah kebijakan, termasuk memilih presiden klub.

Model ini membuat Barcelona kerap disebut bukan sekadar klub sepak bola, melainkan institusi sosial dan ekonomi berbasis komunitas.

Baca Juga: 

Klub Raksasa dengan Sistem Mirip Koperasi

Barcelona menjadi salah satu dari sedikit klub elite Eropa yang masih mempertahankan model kepemilikan anggota (member-owned club). Sistem ini membuat keputusan strategis klub tidak sepenuhnya berada di tangan pemilik modal besar.

Setiap anggota atau socios memiliki satu suara dalam pemilihan presiden dan kebijakan penting klub. Dalam pemilu klub Maret 2026 lalu, Joan Laporta kembali terpilih sebagai presiden hingga 2031 setelah memenangkan 68,18% suara anggota.

Data terbaru media Spanyol menunjukkan Barcelona kini memiliki lebih dari 142 ribu anggota aktif atau socios. Prinsip demokrasi anggota ini pernah terlihat jelas ketika mantan presiden klub, Josep Maria Bartomeu, mundur pada 2020 setelah muncul mosi tidak percaya dari anggota klub.

Pengamat koperasi Suroto menilai sistem Barcelona menjadi contoh menarik bagaimana prinsip koperasi bisa diterapkan dalam industri modern bernilai miliaran dolar. “Presiden klub bisa diganti apabila tidak disetujui anggota. Inilah demokrasi koperasi,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring soal koperasi beberapa waktu lalu.

Pendapatan Fantastis, Tetap Berbasis Komunitas

Sebagai institusi bisnis olahraga, Barcelona tetap menjadi mesin ekonomi besar. Klub ini sempat mencatat pendapatan lebih dari 900 juta euro dalam satu musim dan secara konsisten masuk jajaran klub sepak bola terkaya dunia.

Meski sempat menghadapi tekanan finansial beberapa tahun terakhir, Barcelona perlahan kembali stabil di bawah kepemimpinan Laporta dan pelatih Hansi Flick. Gelar La Liga musim ini bahkan memperkuat kebangkitan klub setelah masa transisi panjang.

Yang menarik, model kepemilikan anggota membuat keuntungan klub tidak sepenuhnya diarahkan untuk pemilik modal, tetapi dikembalikan untuk pengembangan institusi dan komunitas pendukungnya.

Prinsip ini juga tercermin dalam slogan terkenal Barcelona, Mes que un club atau “lebih dari sekadar klub”.

Demokrasi Ekonomi di Industri Sepak Bola

Model Barcelona menunjukkan koperasi tidak selalu identik dengan usaha kecil atau tradisional. Dalam praktiknya, prinsip demokrasi anggota juga bisa diterapkan di industri modern dengan skala global seperti sepak bola profesional.

Di tengah tren kepemilikan klub oleh konglomerat, dana investasi, hingga negara kaya Timur Tengah, Barcelona menjadi contoh unik bagaimana basis komunitas tetap bisa bertahan di industri olahraga modern yang semakin kapitalistik.

Baca Juga: 

Namun, model ini juga memiliki tantangan. Ketergantungan pada keputusan anggota membuat klub harus menjaga keseimbangan antara ambisi bisnis, prestasi olahraga, dan kepentingan komunitas.

Meski demikian, keberhasilan Barcelona menunjukkan sistem berbasis anggota masih relevan di era ekonomi modern, bahkan mampu bersaing dengan klub-klub yang didukung modal raksasa.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 12 May 2026 

Editor: El Putra
Bagikan
Isman Wahyudi

Isman Wahyudi

Lihat semua artikel

Related Stories