Rupiah Dekati 17 Ribu, Mimpi Bunga Murah 2026 Pupus?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2022 mencapai 5,44 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).Minggu 7 Agustus 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

MAKASSARINSIGHT.com – Pelaku pasar keuangan dan sektor riil tampaknya harus bersiap menghadapi perubahan arah angin kebijakan moneter di awal tahun 2026 ini. Bank Indonesia (BI) diprediksi kuat akan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Agenda penting tersebut dijadwalkan berlangsung besok, Selasa, 20 Januari 2026 hingga Rabu, 21 Januari 2026. Prediksi penahanan bunga ini menjadi sinyal kuat bahwa tren pelonggaran moneter, yang sempat agresif dilakukan otoritas moneter sepanjang tahun lalu, kini terpaksa harus "menginjak rem" secara mendadak.

Faktor utama yang menahan langkah bank sentral adalah nilai tukar Rupiah yang kembali tertekan hebat di pasar spot. Saat ini, mata uang garuda diperdagangkan mendekati level psikologis Rp16.900 per dolar AS, membuat BI kehilangan ruang manuver untuk memberikan stimulus tambahan.

Baca Juga: 

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Kun Hariwibowo, menilai langkah menahan bunga adalah pilihan tak terelakkan. Kun menegaskan bahwa stabilitas Rupiah kini menjadi pertaruhan utama kebijakan BI di tengah gejolak eksternal yang semakin tidak menentu.

"Jika ketidakpastian global yang diciptakan US (Amerika Serikat) meningkat, maka akan terjadi capital outflow (arus modal keluar) dari emerging market dan Rupiah semakin tertekan. Maka BI memang akan kehilangan momentum untuk menurunkan tingkat suku bunganya," ujar Kun kepada TrenAsia.Id, pada Senin, 19 Januari 2026.

Kontras Kebijakan 2025

Situasi awal 2026 ini sangat kontras jika disandingkan dengan rekam jejak kebijakan BI sepanjang tahun 2025 lalu. Berdasarkan data historis yang dihimpun TrenAsia.id, tahun 2025 adalah periode di mana BI sangat murah hati atau dovish dalam menetapkan kebijakan moneternya.

Baca Juga: 

Tercatat, bank sentral melakukan pemangkasan suku bunga secara agresif sebanyak empat kali dalam setahun, yakni Januari, Mei, Juli, dan September 2025. Total pemangkasan mencapai 125 basis poin (bps), sukses menurunkan bunga acuan dari level puncak 6,00% menjadi 4,75%.

Info saja, agresivitas tahun lalu awalnya ditujukan untuk memacu sektor properti dan konsumsi yang sempat lesu akibat bunga tinggi. Namun, siklus pelonggaran tersebut kini terbentur tembok tebal realitas eksternal, di mana tren kebijakan global justru tidak seragam dan cenderung mengetat di kawasan Asia.

"Kebijakan suku bunga dalam negeri tidak terlepas dari kondisi global dan tren suku bunga global. Tren kenaikan suku bunga terlihat dari Bank of Japan, Bank of Korea, dan RBA Australia yang memproyeksikan akan adanya kenaikan," tambah Kun menjelaskan posisi sulit BI.

Bahaya Spread Yield

Senada dengan Kun, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai ruang bagi BI untuk melanjutkan pemangkasan bunga sudah benar-benar tertutup oleh kondisi kurs. 

Ia memperingatkan risiko fatal jika BI memaksakan penurunan bunga. Pasalnya, mekanisme pasar yang membuat aset Rupiah menjadi kurang kompetitif di mata investor global. "Menurut saya, BI tidak punya pilihan selain menahan (suku bunga). Masalah utamanya ada pada spread atau selisih imbal hasil yang kian menipis," tegas Esther kepada TrenAsia.Id, pada akhir pekan lalu.

Esther memaparkan bahwa jika bank sentral memaksakan penurunan bunga di saat mata uang sedang volatil, risiko pelarian modal asing akan semakin tidak terbendung. Selisih imbal hasil surat utang negara dengan Amerika Serikat menjadi indikator kunci yang diawasi ketat.

"Jika bunga diturunkan lagi, spread yield antara SBN kita dengan US Treasury akan semakin sempit. Akibatnya, aset rupiah menjadi tidak menarik bagi asing, dan potensi capital outflow justru membesar," tambahnya.

Oleh karena itu, prioritas bank sentral saat ini bergeser drastis dari pro-pertumbuhan menjadi pro-stabilitas. "Jadi, prioritas BI sekarang bukan lagi memacu pertumbuhan kredit, tapi menjaga benteng terakhir agar Rupiah tidak jebol ke Rp17.000," jelas Esther.

Anomali Pasar Modal

Di tengah tekanan makro tersebut, pasar modal Indonesia justru menunjukkan fenomena anomali yang membingungkan sebagian investor ritel. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) justru di saat Rupiah sedang sakit parah.

Kun mengingatkan investor agar tidak terlena. "Memang saat ini kenaikan IHSG selama 7 bulan berturut-turut lebih didominasi ekspektasi investor terhadap saham-saham tertentu (saham konglo) dengan kapitalisasi besar," jelasnya. Ia juga memperingatkan potensi koreksi jika terjadi realisasi keuntungan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 19 Jan 2026 

Editor: Isman Wahyudi
Bagikan
Isman Wahyudi

Isman Wahyudi

Lihat semua artikel

Related Stories