Politik
Ali Larijani, Tokoh Berpengaruh Iran yang Tewas Usai Serangan Israel
MAKASSARINSIGHT.com – Ali Larijani yang muncul sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas, menurut media pemerintah.
Pengumuman Iran, pada Selasa malam, 17 Maret 2026, datang beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan Larijani yang berusia 67 tahun, tewas dalam serangan semalam di tengah perang AS-Israel melawan Iran.
Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terakhir kali terlihat di depan umum pada hari Jumat, selama parade Hari Al-Quds di ibu kota, Teheran.
Baca Juga:
- Munafri Tegaskan Pemerataan Pembangunan hingga Kepulauan
- Kinerja Solid, APLN Raih Pendapatan Rp3,57 Triliun di 2025
- PMI Makassar Tutup Gerai Ramadan, Donor Darah Capai 2.106 Kantong
Selama beberapa dekade, Larijani dikenal sebagai wajah tenang dan pragmatis dari establishment Iran – seorang yang menulis buku tentang filsuf Jerman abad ke-18, Immanuel Kant, dan terlibat dalam negosiasi kesepakatan nuklir dengan negara-negara Barat.
Namun pada 1 Maret, nada bicara kepala keamanan itu berubah secara drastis.
Hanya 24 jam setelah serangan udara AS dan Israel menewaskan Khamenei serta komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, Larijani menyampaikan pesan penuh amarah melalui televisi negara.
“Amerika dan rezim Zionis [Israel] telah membakar hati bangsa Iran,” tulisnya di media sosial. “Kami akan membakar hati mereka. Kami akan membuat para kriminal Zionis dan orang-orang Amerika yang tak tahu malu menyesali tindakan mereka.”
“Para prajurit pemberani dan bangsa Iran yang hebat akan memberikan pelajaran tak terlupakan bagi para penindas internasional yang kejam,” tambahnya.
Larijani, yang menuduh Presiden AS Donald Trump terperangkap dalam jebakan Israel, berada di pusat respons sistem pemerintahan Iran terhadap krisis terbesar sejak 1979.
Ia memainkan peran penting bersama dewan transisi tiga orang yang memimpin Iran setelah terbunuhnya Khamenei. Lalu, siapa sebenarnya Larijani, yang mengarahkan strategi keamanan Iran, dan seperti apa warisannya?
Siapa Ali Larijani?

Dilansir dari The New York Times, sebagai politisi senior dan berasal dari keluarga elite yang memiliki pengaruh besar di bidang politik serta agama, Larijani dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menyuarakan kebijakan pemerintah.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia memimpin tindakan keras terhadap gelombang protes nasional yang menentang pemerintahan Islam, yang menyebabkan ribuan korban jiwa.
Meski berada di lingkungan pemerintahan Iran yang cenderung garis keras, ia juga dipandang sebagai figur pragmatis yang mampu menavigasi dinamika politik internal yang kompleks serta menangani berbagai persoalan sulit dalam kebijakan luar negeri.
Ali Larijani memiliki pengalaman luas yang membuatnya mampu menjalin hubungan dengan berbagai elemen kekuasaan di Iran, termasuk militer, ulama, anggota parlemen terpilih, dan kantor pemimpin tertinggi. Ia juga memiliki pengaruh untuk menjembatani perbedaan antara tokoh politik garis keras dan yang lebih moderat.
Di kancah internasional, ia memimpin hubungan Iran dengan Rusia dan China, dua sekutu terkuat negara itu, mengawasi negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, serta bertindak sebagai utusan kepada aktor regional penting, termasuk Oman dan Qatar.
Larijani terakhir terlihat di hadapan publik pada Jumat di sebuah aksi unjuk rasa Quds Day di Teheran, sebuah acara anti-Israel yang disponsori pemerintah dan diadakan pada hari terakhir Ramadan. Demonstrasi ini dimaksudkan sebagai bentuk dukungan publik terhadap pemerintah di tengah tekanan.
Beberapa hari kemudian, Ali Larijani masuk dalam daftar pemimpin senior Iran yang tewas sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang mencakup Ayatollah Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi Iran, kepala Korps Pengawal Revolusi Islam dan angkatan bersenjata, dan menteri pertahanan.
Dilansir dari Al Jazeera, lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga kaya asal kota Amol, Iran, Larijani berasal dari dinasti yang begitu berpengaruh sehingga pada tahun 2009, majalah Time menyebut mereka sebagai Kennedy-nya Iran.
Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah seorang cendekiawan agama terkemuka. Dan seperti Larijani, saudara-saudaranya juga pernah menduduki beberapa posisi paling berpengaruh di Iran, termasuk di lembaga peradilan dan Majelis Pakar, sebuah dewan cendekiawan yang berwenang untuk memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi.
Hubungan Larijani dengan elit revolusioner Iran pasca-1979 juga bersifat pribadi. Pada usia 20 tahun, ia menikahi Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, orang kepercayaan dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Meskipun keluarganya memiliki akar agama yang konservatif, anak-anaknya memiliki jalan hidup yang beragam. Putrinya, Fatemeh, seorang lulusan kedokteran dari Universitas Teheran, menyelesaikan spesialisasi di Cleveland State University di Ohio, AS.
Matematikawan Sekaligus Filsuf
Berbeda dengan banyak rekan-rekannya yang hanya berasal dari seminari keagamaan, Ali Larijani juga memiliki latar belakang akademis sekuler.
Pada tahun 1979, ia meraih gelar sarjana di bidang Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif. Kemudian, ia menyelesaikan gelar master dan doktor di bidang filsafat Barat dari Universitas Teheran, dengan menulis tesis tentang Immanuel Kant.
Namun, posisi politiknyalah yang menjadi inti dari kariernya.
Setelah revolusi 1979, ia bergabung dengan IRGC pada awal 1980-an, sebelum beralih ke pemerintahan, menjabat sebagai menteri kebudayaan di bawah Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani antara tahun 1994 dan 1997, dan kemudian sebagai kepala lembaga penyiaran negara, IRIB, dari tahun 1994 hingga 2004.
Selama masa jabatannya di IRIB, ia menghadapi kritik dari kaum reformis yang menuduh kebijakan-kebijakannya yang restriktif mendorong kaum muda Iran beralih ke media asing.
Antara tahun 2008 dan 2020, ia menjabat sebagai Ketua Parlemen (Majlis) selama tiga periode berturut-turut, memainkan peran utama dalam membentuk kebijakan dalam negeri dan luar negeri.
Kembali ke Jalur Keamanan
Larijani mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2005 sebagai kandidat konservatif tetapi tidak lolos ke putaran kedua. Pada tahun yang sama, ia diangkat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir negara tersebut.
Ia mengundurkan diri dari jabatan-jabatan tersebut pada tahun 2007, setelah semakin menjauh dari kebijakan nuklir Presiden Mahmoud Ahmadinejad saat itu.
Larijani memasuki parlemen pada tahun 2008, memenangkan kursi untuk mewakili pusat keagamaan Qom, dan menjadi ketua parlemen.
Hal ini memungkinkannya untuk meningkatkan pengaruhnya, dan ia mempertahankan hubungannya dengan isu nuklir, mengamankan persetujuan parlemen untuk kesepakatan nuklir tahun 2015 antara Iran dan kekuatan dunia, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Setelah meninggalkan jabatannya sebagai ketua parlemen pada tahun 2020, Larijani mencoba mencalonkan diri sebagai presiden untuk kedua kalinya dalam pemilihan tahun 2021. Namun kali ini, ia didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga Konstitusi, yang bertugas menyeleksi kandidat. Ia kembali didiskualifikasi ketika mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun 2024.
Dewan Penjaga (Guardian Council) tidak memberikan alasan atas diskualifikasi tersebut, namun para analis menilai langkah pada 2021 itu sebagai upaya pihak establishment untuk membuka jalan bagi garis keras Ebrahim Raisi, yang kemudian memenangkan pemilihan. Larijani mengkritik diskualifikasi pada 2024 sebagai tindakan yang tidak transparan.
Namun, ia kembali menempati posisi berpengaruh pada Agustus 2025, ketika Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Sejak menduduki jabatan tersebut, sikapnya menjadi lebih tegas. Pada Oktober 2025, muncul laporan bahwa Larijani membatalkan perjanjian kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dengan menyatakan bahwa laporan-laporan badan tersebut “tidak lagi berlaku.”
Diplomasi di Tengah Konflik
Meskipun memiliki sikap keras, Larijani sering dianggap sebagai sosok pragmatis dan orang dalam sistem Iran yang mungkin bersedia mencari kompromi, sebagian karena perannya sebelumnya dalam mendukung kesepakatan nuklir 2015.
Beberapa minggu sebelum eskalasi saat ini, Larijani dilaporkan terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Pada Februari, dalam pembicaraan yang dimediasi oleh Oman, ia menyatakan bahwa Teheran belum menerima proposal konkret dari Washington, dan menuduh Israel berupaya menggagalkan jalur diplomatik untuk “memicu perang”.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Larijani menggambarkan posisi negaranya terhadap pembicaraan sebagai positi”, sambil menekankan bahwa AS menyadari opsi militer tidak dapat diterapkan. “Menempuh jalur negosiasi adalah langkah yang rasional,” ujarnya saat itu.
Namun, serangan AS dan Israel telah menghancurkan peluang diplomasi tersebut.
Dalam salah satu pidatonya, Larijani meyakinkan rakyat bahwa rencana untuk mengatur suksesi kepemimpinan sesuai Konstitusi sudah disiapkan. Ia memperingatkan Amerika Serikat bahwa berpikir membunuh para pemimpin dapat mengguncang Iran adalah khayalan belaka.
“Kami tidak berniat menyerang negara-negara regional, namun kami akan menargetkan setiap pangkalan yang digunakan oleh Amerika Serikat,” katanya.
Nada pragmatis yang sebelumnya ada tampaknya menghilang. Larijani menolak laporan media yang menyebut ia ingin mengadakan pembicaraan baru dengan AS, menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dengan Washington.
Sebaliknya, retorikanya meningkat tajam. Pada 5 Maret, menanggapi penolakan Trump untuk menyingkirkan kemungkinan pengiriman pasukan darat, Larijani berjanji akan menangkap dan membunuh pasukan AS jika mereka memasuki Iran.
“Putra-putra gagah dari Imam Khomeini dan Imam Khamenei menanti kalian, siap mempermalukan pejabat Amerika yang korup dengan membunuh dan menangkap ribuan,” ia memperingatkan.
Sikap pembangkangannya telah melampaui sekadar pernyataan. Pada 13 Maret, meskipun pembombardiran AS dan Israel terus berlanjut di ibu kota, Larijani turun ke jalan-jalan Teheran bersama Pezeshkian dan ribuan demonstran untuk memperingati Hari al-Quds, memproyeksikan citra ketahanan dalam menghadapi serangan tersebut.
Dalam surat yang diunggah di akun X-nya pada hari Senin, Larijani mengecam negara-negara Muslim karena bungkam mengenai perang tersebut.
“Jika Anda tidak menanggapi seruan seorang Muslim, Anda bukanlah seorang Muslim. Islam macam apa ini?” tulisnya.
Baca Juga:
- Tiket Pesawat Garuda Mahal, Pengaruh Harga Minyak dan Mudik?
- Pemkot Makassar Pastikan PPPK Paruh Waktu Terima THR 2026
- DPRD Makassar Minta Relokasi PKL Losari Ditunda Usai Lebaran
Minggu lalu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan hadiah hingga US$10 juta bagi siapa saja yang memberikan informasi tentang Larijani, bersama dengan Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei dan pejabat senior lainnya, dengan tuduhan mengarahkan “terorisme” di tingkat global.
Tohid Asadi dari Al Jazeera, melaporkan dari Teheran, menyebut bahwa kalangan elit politik melihat Larijani sebagai penghubung antara aparat keamanan, lingkup militer, dan pemerintahan.
Ia menggambarkan kehilangan Larijani sebagai hal yang signifikan, yang diperkirakan akan berdampak pada pengambilan keputusan strategis negara.
“Dia memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan strategis setelah pembunuhan Khamenei,” kata Asadi.
“Meski terjadi pukulan terhadap jajaran politik dan militer Iran, sistem tetap berjalan, namun mencari pengganti sosok seperti Larijani tidak akan mudah,” tambahnya.
“Dia merupakan salah satu tokoh kunci, baik dalam mengendalikan konflik maupun mungkin dalam menumbuhkan harapan untuk de-eskalasi dalam situasi yang sudah sangat rentan ini.”
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 18 Mar 2026
