Lembata
Rabu, 25 Maret 2026 20:00 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com - Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia perlu diwaspadai. Diprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, terutama di wilayah rawan di Kalimantan.
Selain itu, peluang kemunculan El Nino kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini diperkirakan mencapai 50 hingga 60%, yang dapat memperkuat musim kemarau.
Secara nasional, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami pergeseran awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan rerata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.
Baca Juga:
“Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya,” ungkap Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono pada Rabu 25 Maret 2026.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Papua bagian barat.
Sementara itu, Kalimantan Timur diprediksi memasuki puncak kemarau pada Agustus. BMKG juga mengingatkan durasi kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dari biasanya, sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini.
Di sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air dan tahan kekeringan.
Upaya pencegahan juga dilakukan lintas sektor, termasuk melalui Apel Nasional Kesiapsiagaan Karhutla di Riau yang melibatkan kementerian dan lembaga.
Baca Juga:
Di sisi lain, BMKG menegaskan tidak mengenal istilah “Godzilla El Nino” yang beredar di media sosial. “BMKG tidak mengenal istilah tersebut,” tegas Djoko.
Masyarakat diminta mengacu pada informasi resmi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau. ***
Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Muhammad S.J pada 25 Mar 2026