Selasa, 28 Juli 2026 07:09 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

Konglomerat pemilik Grup Lippo Mochtar Riady / Nikkei
MAKASSARINSIGHT.com - Keluarga Riady telah lama menjadi salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Lewat pengembangan berbagai bisnis di bawah naungan Lippo Group dan sejumlah perusahaan lainnya, keluarga Riady memiliki peran penting dalam perkembangan dunia usaha nasional di berbagai sektor industri.
Melalui Lippo Group, keluarga yang dirintis oleh Mochtar Riady berhasil membangun kerajaan usaha yang kini merambah berbagai sektor strategis, mulai dari perbankan, properti, kesehatan, ritel, pendidikan, media, hingga teknologi digital.
Di bawah kepemimpinan generasi kedua, James Tjahaja Riady, Lippo Group terus melakukan transformasi bisnis.
Jika pada awal berdirinya grup dikenal sebagai pemain utama di industri perbankan, kini bisnis Lippo lebih identik dengan pengembangan kota mandiri, jaringan rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga layanan ekonomi digital.
Baca Juga:
Lantas, seperti apa gurita bisnis keluarga Riady saat ini?
Fondasi Lippo Group dibangun oleh Mochtar Riady pada dekade 1950-an melalui sektor jasa keuangan. Salah satu tonggak terbesarnya adalah pengembangan Bank Lippo, yang kemudian bergabung dan menjadi bagian dari CIMB Niaga.
Selain Bank Lippo, kelompok usaha ini juga pernah memiliki portofolio di sejumlah lembaga keuangan, baik di Indonesia maupun luar negeri, seperti BNP Lippo Bank, Central Asia Bank, Hongkong Chinese Bank, California Lippo Bank di Amerika Serikat, hingga Lippo Finance Australia.
Pengalaman panjang di industri keuangan menjadi modal utama keluarga Riady untuk melakukan ekspansi ke berbagai sektor lainnya. Tongkat estafet kepemimpinan kemudian diteruskan kepada James Tjahaja Riady, putra Mochtar Riady yang lahir di Jakarta pada 7 Januari 1957.
James menempuh pendidikan di University of Melbourne, Australia, sebelum aktif mengembangkan bisnis keluarga. Ia juga pernah terlibat dalam pendirian Worthen Bank di Amerika Serikat, memperluas pengalaman internasional sebelum kembali mengembangkan Lippo Group di Indonesia.
Sementara itu, sang adik, Stephen Riady, lebih banyak menangani berbagai entitas Lippo Group di Hong Kong dan Singapura.
Pasca krisis finansial Asia, Lippo Group melakukan transformasi besar dengan menjadikan sektor properti sebagai bisnis utama.
Melalui PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), grup ini mengembangkan berbagai kota mandiri yang menggabungkan kawasan hunian, pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah, hotel, hingga lapangan golf dalam satu kawasan terintegrasi.
Beberapa proyek andalan Lippo Group antara lain,
Transformasi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Sepanjang 2024, PT Lippo Karawaci Tbk membukukan laba bersih sekitar Rp18,7 triliun, melonjak tajam dibandingkan laba sekitar Rp50,1 miliar pada tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa sektor properti masih menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap bisnis keluarga Riady.
Baca Juga:
Selain properti, Lippo Group juga dikenal sebagai salah satu pelopor ritel modern di Indonesia. Melalui PT Matahari Putra Prima Tbk, grup ini mengembangkan berbagai jaringan ritel, seperti:
Jaringan tersebut menjangkau berbagai kota besar di Indonesia dan menjadi salah satu pemain penting dalam industri perdagangan modern selama beberapa dekade.
Di sektor layanan kesehatan, keluarga Riady mengembangkan Siloam Hospitals, salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Indonesia. Rumah sakit Siloam hadir di berbagai kota dan menjadi salah satu pilar utama bisnis Lippo Group seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Keberadaan rumah sakit juga melengkapi konsep kota mandiri yang dikembangkan Lippo Karawaci, di mana fasilitas kesehatan menjadi bagian dari ekosistem kawasan.
Ekspansi Lippo Group tidak berhenti di sektor properti dan kesehatan. Grup ini juga membangun ekosistem pendidikan melalui Universitas Pelita Harapan (UPH) serta jaringan Sekolah Pelita Harapan, yang kini menjadi salah satu institusi pendidikan swasta ternama di Indonesia.
Di bidang media dan telekomunikasi, Lippo Group mengembangkan sejumlah bisnis seperti:
Langkah tersebut memperluas kehadiran Lippo di industri informasi dan teknologi komunikasi.
Melihat perubahan perilaku masyarakat menuju transaksi digital, Lippo Group juga masuk ke sektor teknologi finansial. Salah satu investasi paling dikenal adalah OVO, dompet elektronik yang diluncurkan pada 2017 dan berkembang menjadi salah satu pemain utama industri pembayaran digital Indonesia.
Lippo juga menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi global, termasuk Tencent, sebagai bagian dari pengembangan ekosistem pembayaran digital.
Di sektor perhotelan, Lippo mengoperasikan jaringan Aryaduta Hotels yang tersebar di berbagai kota besar Indonesia. Sementara secara internasional, gurita bisnis keluarga Riady menjangkau sejumlah negara, antara lain:
Melalui berbagai entitas tersebut, Lippo mengembangkan bisnis properti, jasa keuangan, investasi, hingga industri makanan.
Sebagian bisnis keluarga Riady juga telah melantai di pasar modal, baik di Indonesia maupun luar negeri. Beberapa perusahaan publik yang menjadi bagian dari ekosistem Lippo Group antara lain,
Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut mencerminkan luasnya jaringan investasi yang dibangun keluarga Riady selama beberapa dekade.
Sebagaimana konglomerasi besar lainnya, Lippo Group memiliki struktur kepemilikan yang berlapis melalui sejumlah perusahaan induk.
Di antaranya adalah Lippo Capital, yang menjadi salah satu holding utama dan mayoritas dimiliki keluarga Riady. James Riady dan Stephen Riady juga mengendalikan sejumlah entitas investasi melalui perusahaan masing-masing di Indonesia maupun luar negeri.
Model kepemilikan seperti ini memungkinkan pengelolaan bisnis lintas sektor sekaligus memperkuat ekspansi internasional grup. Perjalanan Lippo Group menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan keluarga mampu bertransformasi mengikuti perubahan zaman.
Berawal dari perbankan, keluarga Riady kini membangun bisnis yang mencakup properti, rumah sakit, pusat perbelanjaan, pendidikan, media, hotel, hingga teknologi digital. Diversifikasi tersebut membuat Lippo tidak lagi bergantung pada satu sektor usaha, melainkan memiliki berbagai sumber pendapatan dari industri yang berbeda.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 28 Jul 2026