Kamis, 29 Januari 2026 05:30 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com – Menghindari peran kepemimpinan kini menjadi ciri khas tenaga pekerja muda. Sementara generasi sebelumnya melihat promosi sebagai tanda kehormatan, karyawan Generasi Z (Gen Z) saat ini lebih memilih jalur karier alternatif, menolak posisi manajerial demi kebebasan, kesehatan mental, dan tujuan hidup.
Karyawan muda, terutama Gen Z, menolak jalur karier tradisional. Bagi perusahaan dan pemimpin, tren ini menandakan pergeseran yang sangat penting. Bagi generasi yang lebih tua, pergeseran ini mungkin tampak seperti kurangnya motivasi, tetapi sebenarnya ini adalah perubahan prioritas.
Dilansir dari CTO Magazine, peran kepemimpinan sering kali membawa tekanan tambahan, jam kerja lebih panjang, dan tantangan dalam mengelola orang, seringkali tanpa kompensasi atau dukungan yang memadai. Hal ini kurang menarik bagi Gen Z, yang cenderung lebih mengutamakan kesehatan mental.
Baca Juga:
Akibatnya, para profesional muda lebih memprioritaskan pertumbuhan pribadi dan kepuasan kerja daripada kenaikan jabatan secara hierarkis. Studi menunjukkan Gen Z umumnya mengalami tingkat kecemasan dan masalah kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain.
Penelitian dari Walton Family Foundation menemukan bahwa 42% Gen Z berjuang melawan depresi dan perasaan putus asa. Sementara itu, laporan dari Harmony Healthcare IT menyebutkan tingkat kecemasan pada Gen Z telah mencapai angka mengkhawatirkan, dengan 61% telah didiagnosis secara medis mengalami gangguan kecemasan dan kondisi gangguan mental.
Dengan begitu banyak masalah kesehatan yang sudah ada, mengapa Gen Z harus menambah tekanan dalam hidup mereka? Mereka lebih memilih ketenangan daripada tekanan.
Di sisi lain, Gen Z lebih menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dibandingkan gaji tinggi sebagai motivasi untuk berpindah karier. Menurut laporan terbaru dari Randstad, fleksibilitas tempat dan waktu kerja menjadi hal yang paling diutamakan oleh generasi ini.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa 46% memprioritaskan fleksibilitas tempat kerja, sementara 51% mengutamakan jam kerja yang fleksibel ketika mencari pekerjaan baru. Selain itu, 48% bahkan menyatakan kemampuan untuk bekerja dari rumah sebagai hal yang tidak bisa ditawar.
Para pekerja Gen Z mengharapkan perusahaan menghormati batasan mereka dengan memberikan beban kerja yang wajar, membatasi rapat yang tidak perlu, dan menghindari komunikasi di luar jam kerja. Jika mereka merasa hal-hal ini tidak diterapkan, mereka cenderung mencari posisi atau pekerjaan lain yang memberikan lebih banyak waktu untuk kehidupan pribadi.
Selain itu, perubahan ekonomi, ketidakstabilan politik, dan kekhawatiran tentang iklim telah memengaruhi cara generasi muda memandang karier mereka. Dengan adanya ketidakpastian, utang yang meningkat, dan biaya hidup yang tinggi, banyak yang merasa mengejar promosi atau posisi kepemimpinan tidak sebanding dengan stres yang ditimbulkan.
Sebaliknya, mereka lebih memilih fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan seperti pengalaman kerja sehari-hari, kesehatan mental dan fisik, dan bagaimana mereka dapat menghabiskan waktu di luar pekerjaan.
Bagi banyak orang, pendekatan ini bukan berarti “kurang ambisius,” tetapi merupakan langkah realistis di dunia di mana jalur karier tradisional tidak lagi menjamin kepuasan atau keamanan hidup.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan banyak orang untuk membangun karier di luar struktur tradisional. Misalnya, bisnis sampingan dan pekerjaan lepas semakin populer. Hal ini membantu orang mengejar berbagai minat dan menciptakan beragam sumber pendapatan tanpa terikat pada satu jalur karier yang menanjak di satu organisasi.
Fokus telah bergeser dari masa kerja jangka panjang di satu organisasi ke tujuan jangka pendek yang menawarkan kepuasan langsung dan selaras dengan minat pribadi.
Generasi Z bukannya tidak terlibat. Mereka kecewa. Mereka menginginkan pekerjaan yang selaras dengan kehidupan, bukan kehidupan yang menyesuaikan diri dengan pekerjaan. Mereka ingin berkembang, bukan hanya bekerja keras tanpa henti.
Dan seiring dengan meluasnya pengaruh mereka di dunia kerja, perusahaan yang berevolusi bersama mereka akan menjadi perusahaan yang paling siap untuk meraih kesuksesan jangka panjang.
Dilansir dari DeskTime, Gen Z memasuki dunia kerja dengan definisi kesuksesan yang baru. Banyak dari mereka kurang termotivasi oleh gelar atau peran kepemimpinan, dan lebih oleh kesempatan belajar, fleksibilitas, dan pertumbuhan pribadi.
Akibatnya, penelitian Deloitte menunjukkan bahwa jika perusahaan tidak berinvestasi dalam pengembangan profesional muda sejak dini, mereka berisiko kekurangan pemimpin masa depan.
Pada saat yang sama, GenZ menantang gagasan tradisional tentang uang dan motivasi. Kekhawatiran finansial tetap nyata, 52% hidup dari gaji ke gaji, 37% kesulitan menutupi pengeluaran bulanan, dan 41% khawatir tentang keamanan pensiun, tetapi mereka tidak hanya termotivasi oleh gaji. Mereka sangat peduli tentang nilai-nilai dan tujuan hidup.
Bagi para manajer, ini berarti Generasi Z mencari tujuan, integritas, keaslian, dan kesadaran lingkungan, bukan hanya gaji.
Untuk menarik dan melibatkan Gen Z, keaslian lebih penting daripada slogan. Generasi ini memperhatikan bagaimana perusahaan berperilaku, bukan hanya apa yang mereka janjikan.
Deloitte menemukan 70% Gen Z mempertimbangkan rekam jejak lingkungan perusahaan ketika memutuskan tempat bekerja, dan 15% telah meninggalkan pekerjaan karena kekhawatiran tentang keberlanjutan.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, uang masih penting, tetapi bukan dengan mengorbankan keseimbangan dan makna. Karyawan Gen Z menginginkan tempat kerja yang menganggap kesejahteraan sebagai bagian dari produktivitas.
Faktor stres terbesar mereka, jam kerja yang panjang, kurangnya pengakuan, dan pengambilan keputusan yang tidak adil, semuanya mengarah pada tempat kerja yang masih mengukur komitmen berdasarkan jam kerja, bukan hasil.
Baca Juga:
Kehadiran Gen Z di tempat kerja bukanlah sebuah tantangan, melainkan sebuah kesempatan untuk membangun tim yang lebih baik dan lebih seimbang. Generasi ini mengajukan pertanyaan penting tentang tujuan, fleksibilitas, kesejahteraan, dan pertumbuhan, yang memaksa organisasi untuk memikirkan kembali apa yang sebenarnya mendorong kinerja.
Bagi para manajer yang siap beradaptasi, Generasi Z menawarkan peluang untuk menciptakan tempat kerja di mana keseimbangan dan produktivitas berjalan beriringan, dan di mana baik individu maupun organisasi dapat berkembang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 29 Jan 2026