FIFA World Cup 2026: Ini Alasan AS Disebut Tuan Rumah Terburuk

Jumat, 12 Juni 2026 18:30 WIB

Penulis:El Putra

Editor:El Putra

FIFA-World-Cup-Trophy.jpg
Trofi Piala Dunia. (Arabian Business)

MAKASSARINSIGHT.com - FIFA World Cup 2026 yang seharusnya menjadi pesta sepak bola terbesar di dunia justru dibayangi berbagai kontroversi di luar lapangan.

 Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Kanada menghadapi kritik keras akibat kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu ketat, persoalan keamanan, hingga berbagai kasus yang membuat pemain, ofisial, wasit, dan suporter dari sejumlah negara mengalami kendala memasuki wilayahnya.

Berbagai insiden tersebut memunculkan kritik dari kelompok hak asasi manusia, pengamat sepak bola, hingga sejumlah pihak yang mempertanyakan apakah Amerika Serikat mampu menghadirkan Piala Dunia yang benar-benar terbuka bagi semua negara.

“Kita tidak hidup di bulan, kita hidup di Bumi. FIFA bukan raja dunia yang bisa memerintah pemerintah atau aparat keamanan. Kami adalah organisasi olahraga yang berusaha melakukan semaksimal mungkin,” ujar Presiden FIFA Gianni Infantino, pada sesi konferensi pers di Mexico City, dikutip dari siaran video FIFA, Kamis, 11 Juni 2026.

Baca Juga: 

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut sederet kontroversi yang membuat Amerika Serikat mendapat sorotan selama FIFA World Cup 2026,

1. Timnas Iran Tidak Diizinkan Bermarkas di Amerika Serikat

Salah satu kontroversi terbesar datang dari tim nasional Iran.

Karena berbagai pembatasan keamanan dan hubungan diplomatik yang rumit antara Amerika Serikat dan Iran, tim tersebut dikabarkan tidak dapat menjadikan wilayah AS sebagai markas utama selama turnamen.

Iran harus menjalani skema perjalanan lintas negara dari Tijuana, Meksiko menuju kota pertandingan di Amerika Serikat. Situasi ini memunculkan kritik karena dianggap memberikan beban fisik dan logistik tambahan yang tidak dialami tim peserta lain.

Selain itu, sejumlah pejabat federasi Iran juga disebut mengalami kendala dalam proses perizinan perjalanan.

Ketegangan semakin meningkat setelah muncul ancaman dari pihak Iran untuk mengambil tindakan tegas apabila pertandingan mereka diwarnai simbol atau aksi politik yang dianggap menyerang pemerintah Iran.

2. Tim Senegal dan Negara Afrika Keluhkan Imigrasi AS

Kontroversi berikutnya berkaitan dengan perlakuan terhadap delegasi dan pendukung dari sejumlah negara Afrika.

Tim nasional Senegal disebut mengalami pemeriksaan keamanan yang sangat ketat saat memasuki Amerika Serikat, meskipun mereka datang sebagai bagian dari delegasi resmi Piala Dunia.

Selain itu, tingginya tingkat penolakan visa terhadap suporter dari beberapa negara Afrika dan negara berkembang juga menjadi sorotan. Kondisi tersebut memicu perdebatan mengenai kesetaraan akses dalam ajang olahraga global yang mengusung semangat persatuan antarbangsa.

3. Wasit Somalia Ditolak Masuk AS

Kasus yang paling menyita perhatian datang dari wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan.

Wasit terbaik Afrika versi CAF tahun 2025 itu dikabarkan gagal menjalankan tugasnya di Piala Dunia setelah mengalami kendala masuk ke wilayah Amerika Serikat.

Akibat keputusan tersebut, kesempatan Artan untuk menjadi wasit pertama asal Somalia yang memimpin pertandingan putaran final Piala Dunia pun hilang.

FIFA disebut tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan keputusan imigrasi negara tuan rumah, sehingga pergantian perangkat pertandingan tidak dapat dihindari.

“Sangat disayangkan apa yang terjadi kepada Omar (Artan) wasit dari Somalia,” jelas Infantino.

Baca Juga: 

4. Tim Irak Alami Masalah di Bandara Amerika Serikat

Kontroversi lain juga menimpa delegasi Irak. Striker utama Irak, Aymen Hussein, dikabarkan menjalani pemeriksaan panjang selama beberapa jam setelah tiba di Amerika Serikat.

Sementara itu, fotografer tim Talal Salah disebut tidak mendapatkan izin masuk dan akhirnya harus kembali ke negara asalnya.

Kasus tersebut semakin memperkuat kritik bahwa prosedur imigrasi Amerika Serikat menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

5. Bintang Swiss Breel Embolo Sempat Terkendala Izin Perjalanan

Pemain tim nasional Swiss, Breel Embolo, juga dikabarkan menghadapi masalah administrasi perjalanan menuju Amerika Serikat.

Masalah tersebut berkaitan dengan proses pemeriksaan ulang dokumen perjalanan yang membuatnya tidak dapat langsung berangkat bersama rekan-rekan setimnya.

Meski demikian, setelah menyelesaikan proses administrasi tambahan, Embolo akhirnya mendapatkan izin untuk bergabung dengan skuad Swiss.

6. Operasi Imigrasi dan Isu Diskriminasi Bayangi Turnamen

Kebijakan imigrasi Amerika Serikat menjelang Piala Dunia menjadi salah satu isu paling kontroversial.

Kelompok pembela hak asasi manusia menilai operasi penegakan imigrasi dalam skala besar berpotensi menciptakan rasa takut di kalangan komunitas imigran dan suporter asing yang ingin menghadiri pertandingan.

Kritik semakin tajam karena FIFA selama ini mengusung slogan bahwa sepak bola adalah olahraga yang terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang kebangsaan, ras, maupun latar belakang politik.

7. Kekhawatiran Keamanan Akibat Budaya Senjata Api di AS

Selain persoalan imigrasi, keamanan publik di Amerika Serikat juga menjadi perhatian.

Insiden penembakan yang terjadi di dekat area latihan tim nasional Inggris menambah kekhawatiran mengenai keselamatan pemain, ofisial, dan jutaan penggemar yang hadir selama turnamen.

Kasus tersebut kembali membuka perdebatan mengenai persoalan kekerasan senjata api yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan sosial di Amerika Serikat.

8. Suporter Mengeluhkan Masalah Tiket dan Biaya yang Terlanjur Keluar

Kontroversi juga muncul dari sisi penggemar. Sejumlah suporter yang telah membeli tiket pertandingan, memesan hotel, dan mengatur perjalanan mengalami kerugian setelah menghadapi kendala visa.

Bagi sebagian penggemar, biaya perjalanan internasional yang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah berpotensi hilang ketika mereka gagal memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat. Masalah teknis dalam sistem penjualan tiket juga turut menambah kritik terhadap kesiapan penyelenggaraan.

Piala Dunia selama ini dikenal sebagai ajang yang mampu menyatukan negara-negara dengan latar belakang budaya dan politik berbeda.

Namun, edisi 2026 menghadapi tantangan unik karena persoalan geopolitik, kebijakan keamanan nasional, serta konflik politik antarnegara ikut terbawa ke dalam atmosfer turnamen.

Beberapa pertandingan bahkan memiliki risiko menjadi arena ekspresi politik dari kelompok pendukung yang berbeda pandangan.

Di tengah berbagai kontroversi tersebut, FIFA berada dalam posisi yang sulit. Sebagai penyelenggara kompetisi, FIFA memiliki tanggung jawab memastikan seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang adil. Namun, kebijakan imigrasi dan keamanan tetap berada di bawah kewenangan pemerintah negara tuan rumah.

“Sekali lagi, kami tidak bisa mengendalikan segalanya. Kami mencoba, kami akan berdiskusi, kami akan berbicara, kita akan lihat hasilnya nanti. Kami tengah mengerjakan semuanya,” ungkap Infantino.

Akibatnya, FIFA tidak memiliki kekuatan hukum untuk membatalkan keputusan masuk atau penolakan visa yang dikeluarkan otoritas Amerika Serikat.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Jun 2026