Selasa, 28 April 2026 17:51 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com - Definisi green job lebih luas dari yang kamu kira. Green job mencakup teknisi panel surya, analis emisi karbon, insinyur energi terbarukan, konsultan sustainability, hingga marketing di perusahaan ramah lingkungan.
Green job bukan pekerjaan kerelawanan atau hanya NGO, green job tersebar di sektor swasta, pemerintah, maupun LSM, dan dari sisi penghasilan harus layak secara ekonomi. Berdasarkan data Bappenas 2023, pekerja green job di Indonesia rata-rata mendapat upah lebih tinggi sekitar Rp310.000 per bulan dibanding pekerja non-hijau.
Selisih gaji muncul karena supply tenaga ahli masih sangat langka. Permintaan naik cepat, tapi jumlah tenaga kerja yang kompeten di bidang ini masih jauh dari cukup. Hukum ekonomi dasar berlaku, langka = mahal.
Baca Juga:
Kamu tidak perlu mulai dari nol, hard skill untuk pekerjaan konvensional dan green job sebenarnya hampir sama. Pekerja yang berpindah ke green job hanya perlu menambah atau mengasah skill serta upgrade pengetahuan soal lingkungan. Artinya, modal yang kamu punya sekarang sudah cukup jadi fondasi.
Data resmi Bappenas, pekerja hijau lebih unggul Rp310.000/bulan. Rata-rata upah pekerja hijau lebih tinggi hampir Rp310.000 dibandingkan pekerja non-hijau. Saat ini jumlah pekerja hijau baru sekitar 3,7 juta orang atau 2,6 % dari total tenaga kerja nasional. Angka kecil itu justru sinyal: persaingannya belum ketat.
Di perusahaan besar, angkanya jauh lebih menarik. Perusahaan seperti Pertamina dan Vale Indonesia menawarkan program pengembangan khusus green job dengan gaji awal Rp12–15 juta signifikan di atas rata-rata UMR nasional.
Gaji 2 digit bukan mitos, Indonesia menargetkan 3,2 juta green job baru dengan rata-rata gaji 2 digit seiring percepatan transisi energi menuju net zero emission 2060.
Pertumbuhan sektornya bukan main-main. Menurut World Economic Forum, sektor green job diprediksi tumbuh 30% setiap tahun hingga 2030. Ini bukan tren sesaat ini restrukturisasi ekonomi global.
Kebutuhan tenaga kerja langsung di energi terbarukan saja sudah masif. Pada 2030 dibutuhkan lebih dari 430.000 tenaga kerja langsung di sektor energi terbarukan belum termasuk pekerjaan tidak langsung seperti analis, konsultan, dan legal yang ikut tumbuh.
Energi hijau jauh lebih padat karya dibanding fosil. Investasi di energi terbarukan bisa menciptakan 70% lebih banyak lapangan kerja dibanding sektor energi fosil. Artinya, setiap rupiah investasi hijau menghasilkan lebih banyak pekerjaan dan lebih banyak permintaan tenaga ahli.
Baca juga : Naik MRT vs Motor: Hemat Mana untuk Pekerja Jakarta?
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 26 Apr 2026