18 Tahun SRC, UMKM Lokal Makin Kompetitif dan Melek Digital

Jumat, 22 Mei 2026 20:38 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

SRC Genap 18 Tahun, Omzet Toko Tembus Rp251 Triliun
SRC Genap 18 Tahun, Omzet Toko Tembus Rp251 Triliun (SRC)

JAKARTA – Memasuki tahun ke-18 perjalanannya, Sampoerna Retail Community (SRC) kembali memperkuat komitmennya untuk mendukung pemberdayaan UMKM di Indonesia. Dalam hampir dua dekade, SRC berkembang dari program pendampingan toko kelontong menjadi jaringan retail tradisional terbesar di Tanah Air yang memberi kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

Saat ini, jaringan SRC telah mencakup lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia, yang didukung oleh lebih dari 6.300 Mitra SRC, serta terhubung melalui 10.000 Paguyuban SRC. Pertumbuhannya juga tercermin dalam hasil Riset “Bukti Nyata SRC untuk Indonesia” dari Kompas Gramedia (KG) Media 2026, yang menunjukkan bahwa kontribusi omzet toko SRC mencapai Rp251 triliun per tahun, atau setara 9,5% Produk Domestik Bruto (PDB) retail nasional tahun 2025. Angka ini meningkat Rp15 triliun dibandingkan dengan kontribusi omzet Rp236 triliun per tahun pada 2023.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa toko yang bergabung dengan SRC mengalami peningkatan omzet hingga 42%. Pertumbuhan ini berlanjut secara konsisten, dengan kenaikan omzet toko sebesar 27,5% pada 2023-2026 melalui pendampingan berkelanjutan dari SRC. Pencapaian ini turut didorong oleh transformasi digital yang terus diperkuat, di mana 98,8% toko SRC telah terdigitalisasi. Tak hanya berhenti disitu, sebanyak 46% toko SRC juga berhasil memperluas lini usaha, mulai dari produk digital hingga layanan pembayaran, sehingga memperkuat loyalitas pelanggan dan menciptakan sumber pendapatan baru. 

BACA JUGA: SRC Gelar Pesta Retail 2026 di Yogyakarta

Di tingkat komunitas, toko SRC turut berperan sebagai saluran distribusi bagi produk UMKM masyarakat sekitar melalui inisiatif Pojok Lokal. Program ini terus menunjukkan dampak positif, dengan pertumbuhan omzet mencapai 128%, dari Rp5,65 triliun per tahun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun per tahun pada 2026. Capaian ini semakin memperkuat peran SRC dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta, Uus Keswanto turut mengapresiasi kontribusi SRC dalam memperkuat ekosistem UMKM dan retail tradisional di ibu kota. Menurutnya, keberadaan ekosistem pemberdayaan seperti SRC memiliki peran strategis dalam membantu UMKM lokal berkembang, meningkatkan daya saing, sekaligus menciptakan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. 

“Selama 18 tahun, SRC semakin menemukan perannya dalam mendukung pemberdayaan UMKM kelontong di seluruh penjuru Nusantara. Di Jakarta saja, jumlahnya telah mencapai sekitar 40.000 toko, sebuah pencapaian yang luar biasa. Kami berharap SRC terus berkembang, bukan hanya menjadi jaringan toko kelontong, tetapi juga melahirkan perusahaan-perusahaan besar kebanggaan Indonesia, seperti Sampoerna saat ini,” ujarnya. 

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dida Gardera, menilai perjalanan 18 tahun SRC mencerminkan konsistensi dalam membangun ekosistem pemberdayaan UMKM yang berdampak luas. Ia menegaskan bahwa peran SRC sangat relevan mengingat UMKM merupakan pilar utama perekonomian nasional sekaligus fondasi pertumbuhan inklusif. “UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Dari sekitar 64 juta usaha di Indonesia, 99,7 persennya adalah usaha mikro. Ketika pandemi dan krisis, UMKM terbukti menjadi andalan perekonomian Indonesia. Karena itu, langkah SRC yang fokus membantu UMKM, khususnya toko kelontong, sangat tepat untuk mendorong usaha kecil naik kelas, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas usaha maupun SDM.”

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Iqbal Shoffan Shofwan, menekankan pentingnya peningkatan daya saing retail tradisional di tengah dinamika global melalui modernisasi, digitalisasi, dan penguatan akses distribusi agar UMKM tetap relevan. “Kontribusi sektor retail terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 54,36 persen, termasuk di dalamnya retail tradisional seperti toko kelontong. Selama 18 tahun terakhir, SRC tidak hanya mengakselerasi usaha, tetapi juga membantu meningkatkan skala warung tradisional melalui penataan toko, manajemen keuangan, hingga memfasilitasi penyaluran barang dari prinsipal maupun distributor. Dampaknya, toko kelontong bisa memperoleh harga yang lebih baik, meningkatkan margin keuntungan, bahkan lebih dari 40 persen berhasil mengembangkan lini usahanya.”

Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto, menambahkan perjalanan SRC selama 18 tahun menjadi bukti bahwa pendampingan yang tepat dan berkelanjutan mampu mendorong UMKM naik kelas. “Melalui pendampingan berkelanjutan, SRC membantu para pemilik toko meningkatkan pengelolaan usaha, mulai dari penataan toko yang lebih rapi, bersih, dan terang, hingga adopsi teknologi seperti AYO Toko dan digital payment. Transformasi ini membuat usaha mereka semakin relevan, lebih stabil, dan mampu berkembang mengikuti kebutuhan pasar,” ujarnya.

Romulus juga menegaskan bahwa penguatan ekosistem SRC terus dilakukan melalui berbagai inovasi, program berkelanjutan, dan kolaborasi strategis lintas sektor. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti Perum BULOG, BRI, Pos Indonesia, Telkomsel, Pertamina Patra Niaga, serta berbagai mitra lainnya.

Melanjutkan komitmen tersebut, dalam momentum perayaan HUT ke-18, SRC kembali memperluas kolaborasinya dengan menandatangani kerja sama strategis bersama sejumlah entitas BUMN, di antaranya Bank Syariah Indonesia (BSI) dan BRI Insurance (BRINS). Kolaborasi ini diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem UMKM nasional, khususnya dalam memperluas akses pasar, memperkuat distribusi, serta menghadirkan layanan yang relevan dan bernilai tambah bagi toko kelontong di seluruh Indonesia.

Sinergi ini turut mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung agenda pemberdayaan UMKM dan peningkatan produktivitas masyarakat, sejalan dengan prioritas nasional dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.