Makassar Kini
Pemkot Makassar Benahi TPA Antang, Siapkan Fondasi PSEL
MAKASSARIMSIGHT.com — Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus menggenjot pembenahan sistem pengelolaan sampah, dengan fokus utama pada revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang sebagai fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Makassar Raya.
Di tengah meningkatnya volume sampah perkotaan, Pemkot Makassar melakukan penataan menyeluruh dari hulu hingga hilir. Langkah ini menandai transformasi besar dari pola lama open dumping menuju sistem pengelolaan yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengungkapkan bahwa pembenahan diawali dengan penguatan koordinasi bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD), termasuk pengajuan proposal anggaran guna menyelesaikan berbagai persoalan di TPA Antang.
Baca Juga:
- Rudianto Lallo Terima Aduan Pj Kades Pattallassang Kasus Dana Desa
- Hingga Maret 2026, 125 Ribu Debitur Nikmati KPR Subsidi BRI
- Gubernur Resmikan KCS Maros, Bank Sulselbar Perkuat Syariah
“Menjawab persoalan di TPA, kami telah berkoordinasi dengan TPAD dan mengusulkan anggaran untuk pembenahan serta penyelesaian berbagai masalah di TPA Antang,” ujar Helmy, Senin (13/4/2026).
DLH Makassar kini mengakselerasi berbagai langkah konkret, mulai dari penguatan armada pengangkut, perbaikan dan penambahan alat berat, hingga penataan ulang gunungan sampah. Upaya tersebut diperkuat dengan dukungan anggaran yang difokuskan pada percepatan penanganan sampah secara sistematis dan ramah lingkungan.
Saat ini, anggaran pengelolaan TPA Antang masih sekitar Rp10 miliar atau hanya 0,016 persen dari total APBD. Padahal, kebutuhan ideal sektor persampahan mencapai sekitar 3 persen dari APBD atau setara Rp250 miliar. Sementara itu, produksi sampah Kota Makassar mencapai sekitar 1.043 ton per hari atau hampir 300 ribu metrik ton per tahun.
Salah satu fokus utama adalah peralihan metode pengelolaan dari open dumping menuju sanitary landfill. Sistem ini dinilai mampu menekan dampak lingkungan, termasuk pencemaran air lindi, melalui pengelolaan yang lebih tertutup dan terstandar.
“Kalau kita ingin menerapkan sanitary landfill, selain pemilahan, harus dilakukan penutupan tanah secara berkala, bahkan harian, dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar,” jelas Helmy.
DLH Makassar juga mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp29 miliar untuk mendukung operasional TPA, termasuk perbaikan alat berat yang sebagian besar tidak berfungsi sejak beberapa tahun terakhir. Selain itu, pembenahan kolam lindi dan penyediaan tanah penutup diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp30 miliar.
Pembenahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan pembangunan PSEL Makassar Raya yang diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi beban TPA serta mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan. Untuk tahap awal, pembebasan lahan diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp30 miliar, dengan total kebutuhan yang diajukan mencapai Rp60 miliar.
“Sekarang ini sudah dinamakan PSEL Makassar Raya. Kami telah melakukan verifikasi lapangan bersama berbagai pihak,” ungkap Helmy.
Verifikasi tersebut melibatkan PT Dana Antara, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, serta pemerintah daerah sekitar seperti Gowa dan Maros. Dari hasil kajian, pembangunan fasilitas PSEL mensyaratkan peninggian lahan sekitar 50 sentimeter hingga 1 meter guna memenuhi standar kepadatan tanah dan mengantisipasi risiko banjir.
Selain pembenahan di TPA, DLH Makassar juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pengembangan Bank Sampah Unit, TPS 3R, dan TPST. Distribusi komposter hingga tingkat RT/RW turut digalakkan untuk mengolah sampah organik secara mandiri dan terintegrasi dengan program urban farming.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2013 yang mengamanatkan bahwa mulai 2026 hanya sampah residu yang diperbolehkan masuk ke TPA.
Baca Juga:
- Makassar Pacu PSEL Senilai Rp3 T, Appi Pastikan Lahan TPA Siap
- Dari Dapur Sederhana, Usaha Kue Perempuan Ini Makin Laris Berkat BRI
- Selat Hormuz Penting untuk Akses Internet hingga Fintech
“Artinya, pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Tanpa keterlibatan wilayah, pengurangan sampah tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.
Helmy optimistis transformasi ini akan mengurangi volume sampah secara signifikan, meningkatkan kualitas lingkungan, serta mendukung terwujudnya Makassar sebagai kota yang bersih dan berkelanjutan.
“Perubahan dari open dumping menuju sanitary landfill merupakan tanggung jawab bersama. Ini adalah komitmen kolektif untuk masa depan lingkungan yang lebih baik,” pungkasnya. (*)
