Menopause Tak Selalu Berdampak Negatif pada Kesehatan Mental

Penelitian: Menopause Tak Selalu Berdampak Negatif pada Kesehatan Mental (Pevic Awareness Project)

MAKASSARINSIGHT.com, JAKARTA - Penelitian terbaru menyatakan bahwa menopause tidak selalu berdampak negatif pada kesehatan mental. Ulasan dari Brigham and Women's Hospital dan kolaborator menunjukkan bahwa risiko depresi dan kondisi kesehatan mental lainnya tidak selalu meningkat secara seragam selama menopause.

Sebelumnya, menopause dianggap sebagai penyebab potensial tekanan psikologis. Namun, penelitian ini menggambarkan bahwa hubungan ini tidak selalu terjadi. Ulasan tersebut, ditulis oleh para ahli dari Brigham Women's Hospital dan kolaborator internasional, merupakan yang ketiga dalam serangkaian makalah mengenai menopause yang diterbitkan di The Lancet.

Penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa menopause secara umum meningkatkan risiko kondisi kesehatan mental, termasuk gejala depresi, gangguan depresi mayor, kecemasan, gangguan bipolar, dan psikosis, pada semua wanita. 

Baca Juga: 

Meskipun demikian, peneliti menemukan bahwa kelompok tertentu lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental selama menopause.

Individu cenderung melaporkan gejala depresi jika mereka telah mengalami depresi sebelumnya, jika tidur mereka terganggu, atau jika mereka mengalami peristiwa kehidupan yang stres bersamaan dengan menopause.

Ekspektasi negatif terhadap menopause dan potensi penyalahartian terhadap tekanan psikologis serta gangguan psikiatrik dapat merugikan wanita dengan menunda diagnosis dan pengobatan yang akurat.

Para peneliti menekankan bahwa tidak boleh diasumsikan bahwa gejala kesehatan mental selama transisi menopause selalu terkait dengan menopause itu sendiri. Transisi menopause, yang dapat berlangsung selama empat hingga sepuluh tahun, dimulai pada usia 47 tahun rata-rata.

Meskipun menopause sering dianggap melelahkan secara emosional karena fluktuasi hormonal, periode ini biasanya juga dibarengi dengan stres dan peristiwa hidup. Seperti perubahan hubungan atau pekerjaan. Ini membuat sulit untuk memisahkan kontribusi relatif dari faktor-faktor ini.

Untuk menyelidiki hubungan antara transisi menopause dan kondisi kesehatan mental, peneliti meninjau studi sebelumnya tentang gejala depresi, gangguan depresi mayor, kecemasan, gangguan bipolar, dan psikosis selama menopause. 

Mereka menemukan bahwa depresi klinis yang lebih parah selama menopause hanya terjadi pada individu yang sebelumnya telah didiagnosis dengan kondisi tersebut.

Gejala depresi juga lebih sering diamati pada individu yang mengalami transisi menopause yang sangat panjang, gangguan tidur yang parah karena hot flushes nocturnal, dan peristiwa kehidupan yang stres enam bulan sebelum dinilai.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada bukti meyakinkan bahwa risiko kecemasan, gangguan bipolar, atau psikosis secara umum meningkat selama transisi menopause.

Baca Juga: 

Hasil ini memberikan wawasan tentang perlunya mempertimbangkan latar belakang, diagnosis kesehatan mental sebelumnya, dan situasi kehidupan saat ini ketika menghadapi gejala kesehatan mental selama menopause. 

Terapi hormonal bukanlah pilihan pertama untuk depresi klinis selama menopause, dan klinis seharusnya mempertimbangkan pendekatan yang holistik.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran lebih jelas tentang kompleksitas hubungan antara menopause dan kesehatan mental, menyoroti perlunya pendekatan yang lebih kontekstual dan tidak mengesampingkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan mental selama periode ini.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Rumpi Rahayu pada 10 Mar 2024 

Editor: Isman Wahyudi
Bagikan
Isman Wahyudi

Isman Wahyudi

Lihat semua artikel

Related Stories