Kenapa Mi Instan Bikin Ketagihan? Begini Penjelasannya

Ilustrasi mie instan. (Freepik/jcomp)

MAKASSARINSIGHT.com – Alasan mi instan bikin ketagihan menjadi topik yang banyak dicari. Meski tidak tergolong zat adiktif, kombinasi rasa gurih, aroma yang khas, tekstur, serta kandungan lemak dan garam dalam mi instan dapat merangsang sistem penghargaan (reward system) di otak, sehingga memicu keinginan untuk mengonsumsinya kembali.

Dilansir lama Mind Body Green, Senin, 13 Juli 2026, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mi instan termasuk dalam kategori makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF) yang dirancang untuk menghasilkan cita rasa sangat menarik sehingga memicu keinginan untuk mengonsumsinya berulang kali.

Baca Juga: 

Lantas, mengapa mi instan terasa begitu membuat ketagihan?

Mi Instan Memengaruhi Sistem Imbalan di Otak

Salah satu alasan utama mi instan sulit ditolak adalah kemampuannya mengaktifkan reward system atau sistem imbalan di otak.

Pada dasarnya, sistem ini berfungsi memberi sinyal ketika seseorang mengonsumsi makanan yang dianggap memberikan manfaat bagi tubuh. Namun, makanan ultra-proses memanfaatkan mekanisme tersebut dengan merancang kombinasi rasa yang sangat kuat.

Para ahli menyebut terdapat konsep bliss point, yakni komposisi ideal antara garam, lemak, gula, dan karbohidrat yang menghasilkan tingkat kenikmatan maksimal. Kombinasi tersebut jarang ditemukan pada makanan alami, tetapi banyak digunakan dalam produk makanan olahan, termasuk mi instan.

Saat makanan dengan komposisi tersebut dikonsumsi, otak melepaskan sinyal yang mendorong seseorang ingin mengulang pengalaman menyenangkan tersebut.

Kombinasi MSG, Garam, dan Lemak

Mi instan juga mengandung berbagai bahan yang memperkuat cita rasa, seperti Monosodium Glutamat (MSG), natrium, dan lemak.

MSG dikenal sebagai penguat rasa umami yang membuat makanan terasa lebih gurih. Bersama garam dan lemak, ketiga komponen tersebut menciptakan sensasi rasa yang sangat kuat sehingga meningkatkan daya tarik makanan.

Dalam ilmu pangan, kondisi ini dikenal sebagai hyperpalatability, yaitu makanan yang dirancang memiliki tingkat kelezatan sangat tinggi sehingga mendorong seseorang makan lebih banyak dibandingkan kebutuhan tubuh.

Selain itu, tekstur mi yang lembut dan mudah dikunyah membuat makanan ini dapat dikonsumsi dengan cepat sebelum otak sempat mengirimkan sinyal kenyang secara optimal.

Faktor Psikologis Juga Berperan

Selain proses biologis, ada sejumlah faktor psikologis yang membuat mi instan semakin digemari. Bagi banyak orang, mi instan merupakan comfort food, yakni makanan yang memberikan rasa nyaman ketika sedang lelah, stres, atau ingin menikmati sesuatu yang praktis.

Tak hanya itu, harga yang relatif murah, proses memasak yang singkat, serta berbagai kenangan masa kecil atau masa kuliah membuat mi instan memiliki nilai emosional tersendiri.

Karena itu, keinginan mengonsumsi mi instan sering kali tidak hanya dipicu rasa lapar, tetapi juga nostalgia dan kebutuhan akan kenyamanan.

Apakah Mi Instan Bisa Mengubah Otak?

Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dengan perubahan pada sejumlah area otak yang berhubungan dengan pengaturan nafsu makan, emosi, dan sistem penghargaan.

Perubahan tersebut diduga dapat membuat seseorang lebih mudah terdorong untuk mengonsumsi makanan tinggi garam, lemak, dan gula secara berulang sehingga membentuk pola makan yang kurang sehat.

Meski demikian, perubahan tersebut dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, gaya hidup, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Baca juga : Harga Sembako di DKI Jakarta Senin, 13 Juli 2026, Kacang Kedelai Naik, Tomat Buah Turun

Selain persoalan ketagihan, konsumsi mi instan yang terlalu sering juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai gangguan kesehatan.

Beberapa penelitian observasional menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses, termasuk mi instan secara berlebihan, berhubungan dengan peningkatan risiko:

  • Sindrom metabolik.
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
  • Penyakit jantung.
  • Diabetes tipe 2.
  • Stroke.
  • Gangguan fungsi ginjal.

Perlu dicatat, hubungan tersebut tidak berarti mi instan secara langsung menjadi penyebab tunggal penyakit. Risiko sangat dipengaruhi oleh pola makan keseluruhan, frekuensi konsumsi, aktivitas fisik, serta faktor genetik.

Baca Juga: 

Mi instan tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, asalkan tidak berlebihan.

Untuk membuatnya lebih bergizi, Anda dapat menambahkan sumber protein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe, serta sayuran seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli. Mengurangi penggunaan seluruh bumbu juga dapat membantu menekan asupan natrium.

Dengan kata lain, rasa "ketagihan" terhadap mi instan bukan sekadar masalah kebiasaan. Kombinasi rekayasa cita rasa, cara kerja sistem imbalan di otak, serta faktor psikologis membuat makanan ini sangat menarik untuk dikonsumsi berulang kali. Karena itu, mengonsumsinya secara bijak dan tetap menjaga pola makan seimbang menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 25 Jul 2026 

Editor: El Putra
Bagikan
Isman Wahyudi

Isman Wahyudi

Lihat semua artikel

Related Stories