Makassar Kini
Ibaratkan Makassar Taman, Appi: Saya Akan Bersihkan yang Menutupi Keindahan
MAKASSARINSIGHT.com — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengibaratkan Kota Makassar sebagai sebuah taman bunga yang memiliki beragam potensi dan keunggulan.
Menurutnya, Makassar memiliki modal besar untuk berkembang, mulai dari posisi strategis sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, kekayaan budaya dan kuliner, sektor pariwisata, ekonomi kreatif, hingga dinamika kehidupan masyarakat urban.
Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya terlihat karena masih terdapat berbagai persoalan yang dianalogikan sebagai ilalang yang menutupi keindahan bunga-bunga di dalam taman.
Analogi itu disampaikan Munafri saat menjadi pembicara dalam Makassar Marketing Festival 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga:
- Jelang 17 Agustus, Munafri Perkuat Tiga Pilar Jaga Kamtibmas di Makassar
- AHA Commerce Lebarkan Sayap ke Thailand, Bawa Teknologi AI Marketing
- UOB Perkuat Portofolio Kartu Premium dengan Visa Infinite Privilege
“Selalu saya melihat bahwa Kota Makassar ibaratnya taman bunga. Makassar ini adalah sebuah taman bunga yang ditumbuhi dengan berbagai warna bunga yang ada,” kata Munafri.
Menurutnya, dibutuhkan sosok tukang kebun yang mampu menata taman, membersihkan semak belukar, serta memastikan setiap bunga dapat tumbuh dan terlihat keindahannya.
“Sehingga dibutuhkan seorang tukang kebun yang mampu menata, menghilangkan semak belukar itu untuk memperlihatkan indahnya bunga-bunga yang ada di taman itu,” tuturnya.
“Dan tukang kebun itu akan saya perankan dengan baik selama memimpin Kota Makassar di lima tahun ke depan,” sambung Appi yang disambut tepuk tangan.
Munafri mengatakan, tugas pemerintah bukan hanya menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga memastikan berbagai potensi yang dimiliki Makassar dapat dikelola menjadi kekuatan ekonomi dan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kota Makassar terus mencari formula yang tepat untuk membangun identitas atau branding kota yang mampu menggambarkan karakter Makassar secara utuh.
Lebih dari satu tahun memimpin Kota Makassar, Munafri mengaku masih mencari kata atau slogan yang tepat untuk mem-branding kota tersebut.
“Kalau kita melihat Kota Makassar, sampai detik ini, terus terang, saya masih mencari kata-kata yang sangat cocok untuk mem-branding kota ini,” ujarnya.
Ia menyebut telah muncul ratusan alternatif konsep dan tagline. Namun, belum ada satu slogan yang dinilai benar-benar mampu merepresentasikan seluruh kekuatan Makassar.
Menurut Munafri, branding kota bukan sekadar membuat slogan yang terdengar menarik. Identitas tersebut harus dibangun dari karakter dan kekuatan kota yang benar-benar dapat dirasakan masyarakat maupun orang yang berkunjung.
“Kota Makassar ini sudah punya aura yang sangat kuat untuk maju. Dengan berbagai macam aktivitas kehidupan di dalamnya sebagai kota urban,” katanya.
Makassar, lanjut dia, menjanjikan harapan besar bagi masyarakat dan pelaku usaha. Tantangannya adalah bagaimana pemerintah mengelola seluruh potensi tersebut melalui tata kelola pemerintahan yang efektif.
“Harapan-harapan inilah yang harus diwujudkan oleh pemerintah untuk mengatur tata kelola pemerintahan dengan baik sehingga menghasilkan impactful government,” tutur Munafri.
Konsep pemerintahan berdampak tersebut, kata dia, diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Salah satunya melalui kebijakan pengelolaan sampah. Pemkot Makassar mulai mendorong pemilahan sampah dari sumber dengan mengadopsi praktik pengelolaan sampah yang telah diterapkan di sejumlah negara maju.
“Kita mencoba menerapkan sebuah langkah maju yang pernah menjadi success story di negara-negara maju. Kita paksakan ini untuk terjadi di Kota Makassar,” tegasnya.
Selain persoalan lingkungan, Pemkot Makassar juga berupaya menggunakan belanja pemerintah sebagai instrumen untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Munafri menyebut pemerintah menargetkan sekitar 50 persen belanja pemerintah kota dapat diarahkan untuk belanja lokal.
Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat daya beli sekaligus mempercepat perputaran uang di tengah masyarakat.
“Kalau dayanya kuat, tentu dampak ekonomi yang dirasakan pasti akan jauh lebih baik. Itu cara kami untuk menggerakkan ekonomi lokal yang ada di Kota Makassar,” jelasnya.
Munafri juga menjelaskan alasan Pemkot Makassar tidak terburu-buru melakukan promosi kota secara besar-besaran.
Menurutnya, promosi harus berjalan beriringan dengan pembenahan kota. Pemerintah tidak ingin wisatawan datang dengan ekspektasi tinggi karena promosi, tetapi justru kecewa ketika melihat kondisi kota secara langsung.
“Kami tidak ingin orang datang cuma sekali di Kota Makassar. Tapi kami ingin memperbaiki tata kota, lalu mengundang orang datang dan orang akan berdecak kagum dan datang untuk mengajak kolega-koleganya yang lain. Ini yang menjadi cita-cita kita,” ujarnya.
Salah satu strategi untuk meningkatkan daya tarik Makassar adalah memperbanyak event berskala besar.
Munafri menilai event tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial. Kehadiran ribuan orang dalam sebuah kegiatan dapat memberikan efek ekonomi berantai, mulai dari peningkatan okupansi hotel, transaksi UMKM, restoran, pusat kuliner hingga sektor jasa.
“Semakin banyak orang yang datang, maka semakin besar pula uang yang berputar di dalam kota. Tamu-tamu ini akan belanja di pasar-pasar kami. Ini akan memenuhi kamar-kamar hotel kami dan sirkulasi ekonomi akan berjalan dengan kurva yang sempurna di kota ini,” kata Munafri.
Menurutnya, Makassar memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi event karena memiliki akses konektivitas yang baik serta berbagai potensi wisata dan ekonomi.
Kota Makassar juga memiliki garis pantai yang panjang dan gugusan Kepulauan Spermonde yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan wisata bahari.
Selain itu, posisi Makassar sebagai jalur perdagangan dan konektivitas kawasan Asia-Pasifik telah terbentuk sejak berabad-abad lalu.
“Makassar ini sudah menjadi kota perdagangan sejak berabad-abad lalu,” katanya.
Munafri juga menilai keamanan, kenyamanan dan toleransi merupakan bagian penting dalam membangun daya saing sebuah kota.
Ia menyebut peningkatan posisi Makassar dalam indeks toleransi menjadi salah satu modal sosial untuk menarik wisatawan, investor dan pelaku usaha.
“Untuk kota-kota besar tahun sebelumnya kita berada di posisi 50-an, 40-an. Alhamdulillah tahun ini sudah masuk menjadi nomor 9 yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Munafri, kota tidak akan mampu berkembang secara optimal jika persoalan keamanan dan konflik sosial masih menjadi kekhawatiran masyarakat.
Karena itu, penguatan toleransi dan kehidupan masyarakat yang inklusif harus berjalan bersamaan dengan pembangunan ekonomi.
Di sisi lain, Pemkot Makassar juga memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi anak muda, termasuk menghadapi persoalan pengangguran.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan Makassar Creative Hub sebagai ruang pengembangan keterampilan bagi masyarakat.
Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara gratis untuk masyarakat yang ingin mengembangkan keterampilan, mulai dari kewirausahaan, barista, makeup artist hingga coding.
“Yang mau jadi entrepreneur silakan datang, yang mau jadi barista silakan datang, yang mau jadi makeup artist silakan datang, yang mau belajar coding silakan datang,” jelasnya.
Saat ini, Pemkot Makassar telah memiliki dua Makassar Creative Hub. Ruang tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelatihan, tetapi juga tempat membangun jejaring antara anak muda dengan industri.
Munafri menyebut sejumlah kolaborasi telah masuk ke Makassar, termasuk dengan industri kreatif dan teknologi.
“Event Netflix pun sudah datang, Apple Academy pun sudah datang. Kami tidak mau cuma dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, tapi kami mau dikenal sebagai Kota Makassar, kota yang besar, The Great of Makassar,” tegasnya.
Pemkot Makassar juga tengah menyiapkan kegiatan yang mempertemukan berbagai brand lokal dengan investor, mitra bisnis dan konsumen.
Munafri menegaskan, kegiatan tersebut tidak boleh berhenti pada pameran atau sekadar pertukaran kartu nama.
“Percuma kita bikin event-event kalau hanya cerita-cerita kartu nama lalu tidak ada implementasi apa-apa. Ini yang kami bangun di Kota Makassar,” ujarnya.
Pemerintah ingin setiap kegiatan bisnis mampu membuka peluang transaksi, akses permodalan, penguatan branding hingga perluasan jaringan usaha bagi pelaku ekonomi lokal.
Selain ekonomi kreatif, sektor kuliner juga dinilai menjadi salah satu kekuatan Makassar yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi pemasaran kota.
Menurut Munafri, gastronomi Makassar memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan dapat menjadi salah satu alasan orang datang sekaligus kembali berkunjung.
Untuk memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat, Pemkot Makassar juga mengembangkan Lontara Plus.
Munafri menjelaskan, platform tersebut dikembangkan untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi pelayanan yang sebelumnya tersebar di masing-masing SKPD.
Baca Juga:
- Intip Penguasa Bisnis Rokok di Indonesia, Ini Daftar Raja Industri Tembakau
- Semarak HUT ke-102, Karyawan Perumda Air Minum Makassar Gelar Donor Darah
- Triwulan II 2026, Pendapatan Makassar Tembus 49 Persen dan Surplus Rp130 Miliar
“Kami develop yang namanya Lontara Plus. Ini menggabungkan 380 aplikasi yang tumbuh di masing-masing SKPD. Kami jadikan satu,” ungkapnya.
Pengembangan Lontara Plus kini memasuki tahun kedua. Namun, menurut Munafri, ukuran keberhasilan digitalisasi pemerintahan bukan hanya banyaknya aplikasi yang dapat diintegrasikan.
Yang lebih penting, kata dia, adalah kemampuan pemerintah merespons kebutuhan dan aduan masyarakat secara cepat.
Pada akhirnya, seluruh program tersebut diarahkan untuk membangun pemerintahan yang semakin dekat dengan masyarakat sekaligus memastikan potensi Kota Makassar dapat dikelola secara maksimal.
Munafri menegaskan, Makassar memiliki modal besar untuk menjadi kota yang semakin kompetitif. Tugas pemerintah adalah memastikan tidak ada persoalan yang justru menutupi potensi tersebut.
“Dengan berbagai potensi dan tantangan yang ada di kota ini, kami meyakini Makassar memiliki peluang besar untuk menjadi kota yang semakin kompetitif,” pungkasnya. (****)
