Rabu, 09 September 2026 17:27 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com — Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi pada Jumat, 4 September 2026. Aktivitas letusan gunung api di Selat Sunda tersebut masih berlangsung hingga Minggu, 6 September 2026, sehingga kembali menjadi perhatian terkait aktivitas vulkaniknya.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau ini menimbulkan muntahan abu vulkanik yang ikut tersebar bahkan sampai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Maluku.
Seperti yang dilansir dari IVHHN, abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung yang sedang erupsi terdiri dari partikel-partikel kecil batuan vulkanik yang hancur dan ukurannya kurang dari 2 milimeter.
Warna abu vulkanik antara abu-abu mudah hingga hitam, dan ukurannya bisa sebesar butiran pasir tapi ada juga yang sangat halus seperti bedak.
Baca Juga:
Abu vulkanik dapat beterbangan di udara bahkan bisa menghalangi sinar matahari. Dalam kondisi tertentu, abu vulkanik bisa membuat suasana jadi gelap meski masih siang hari.
Abu vulkanik yang baru saja turun ini memiliki lapisan asam yang bisa berdampak negatif pada kesehatan manusia, seperti menimbulkan iritasi pada paru-paru dan mata. Selain itu, ada juga beberapa dampak abu vulkanik pada kesehatan seperti berikut ini yang tidak bisa diremehkan.
Paparan abu vulkanik yang masuk sampai ke paru-paru dalam jangka pendek bisa menimbulkan beberapa gejala seperti berikut.
Meski tidak selalu terjadi, paparan abu vulkanik bisa menimbulkan iritasi kulit karena abu vulkanik bersifat asam.
Gejala iritasi kulit bisa ditunjukkan lewat kulit yang menjadi kemerahan. Selanjutnya, infeksi sekunder bisa terjadi karena terlalu sering menggaruk kulit yang teriritasi.
Iritasi mata akibat abu vulkanik bisa menimbulkan gejala seperti berikut.
Itu tadi beberapa dampak negatif paparan abu vulkanik akibat erupsi gunung untuk kesehatan. Hati-hati!
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Justina Nur Landhiani pada 07 Sep 2026