Minggu, 08 November 2026 22:05 WIB
Penulis:Adzkiya Izora
Editor:Adzkiya Izora

MAKASSARINSIGHT.com — Penggunaan pemanis buatan sebagai pengganti gula masih menjadi perdebatan, terutama terkait dampaknya terhadap kesehatan. Apakah pemanis buatan aman dikonsumsi dalam jangka panjang atau justru berisiko menimbulkan efek negatif bagi tubuh? Pertanyaan ini kerap muncul seiring meningkatnya penggunaan pemanis buatan dalam berbagai produk makanan dan minuman rendah gula.
Akan tetapi, sejumlah penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa konsumsi bahan pemanis buatan bisa memicu munculnya dampak tak terduga bagi tubuh.
Berikut beberapa risiko konsumsi pemanis buatan bagi kesehatan, berdasarkan sejumlah penelitian seperti yang telah dirangkum dari The Healthy.
Baca Juga:
Menurut studi dari Fakultas Kedokteran Florida State University (FSU) menemukan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi aspartam, salah satu jenis pemanis buatan yang kerap digunakan, dengan gangguan kemampuan dalam belajar dan daya ingat pada tikus.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports Agustus 2023 ini menunjukkan anak tikus jantan yang induknya mengonsumsi aspartam dapat mengalami gangguan dalam kemampuan belajar spasial dan daya ingat. Pengamatan terhadap tikus ini dilakukan selama 16 minggu dalam kondisi yang terkontrol.
Studi yang dilakukan peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health pada September 2023 menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara mengonsumsi makanan ultra-proses (UPF) terutama yang mengandung pemanis buatan dengan meningkatnya risiko depresi.
Meski begitu, temuan ini hanya menunjukkan hubungan antara pola konsumsi makanan dan risiko depresi, bukan membuktikan secara langsung bahwa pemanis buatan dapat menyebabkan gangguan mental.
Pemanis buatan seperti stevia, sakarin, dan sukralosa dikatkan dengan perubahan mikrobioma usus.
Mikrobioma usus adalah suatu kumpulan mikroorganisme termasuk bakteri yang hidup di dalam saluran pencernaan yang berperan untuk menjaga kesehatan tubuh.
Pemanis tanpa gula kerap dipromosikan sebagai pemanis alternatif untuk membantu menurunkan berat badan.
Akan tetapi, WHO justru menyarankan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakannya.
Direktur Departemen Gizi dan Keamanan Pangan WHO, Francesco Branca, MD, PhD menjelaskan bahwa mengganti gula bebas dengan pemanis tanpa gula tidak terbukti memberikan manfaat jangka panjang dalam mengendalikan berat badan.
Baca Juga:
Studi terbaru memunculkan kekhawatiran tentang keamanan beberapa pemanis buatan yang populer, seperti sukralosa dan aspartam.
Keduanya diduga berpotensi menimbulkan efek genotoksik, yaitu dampak merusak materi genetik atau DNA, bahkan kemungkinan berkaitan dengan perkembangan kanker.
Itu tadi beberapa risiko konsumsi pemanis buatan bagi kesehatan, jangan anggap remeh!
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Justina Nur Landhiani pada 04 Nov 2026