Jumat, 25 September 2026 08:54 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com — Program Pelajar Sulsel Menabung (PSM) resmi dimulai dengan menyasar 1.000 pelajar di 20 sekolah SMA/sederajat di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros.
Program yang diinisiasi Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) III Sulawesi, Maluku dan Papua tersebut ditandai dengan penabuhan gendang oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman dalam Kick Off dan Training of Trainers (ToT) di Hotel Claro Makassar, Kamis (24/9/2026).
Program bertema “Menabung Sejak Dini, Membangun Masa Depan Negeri” itu akan berlangsung selama dua bulan dengan melibatkan 100 pembina dari sekolah peserta. Para pembina nantinya menjadi penggerak kebiasaan menabung di lingkungan sekolah masing-masing.
Sekda Sulsel Jufri Rahman menyambut baik pelaksanaan Program Pelajar Sulsel Menabung sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya menabung sekaligus membangun karakter pelajar dalam mengelola keuangan.
Baca Juga:
“Menabung itu merancang masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi karakter,” kata Jufri.
Menurutnya, kebiasaan menabung bukan sekadar aktivitas menyisihkan uang, tetapi juga mengajarkan pelajar untuk mengendalikan keinginan, menentukan prioritas, merencanakan masa depan, serta bertanggung jawab dalam mengelola keuangan pribadi.
Karena itu, Jufri berharap para guru yang menjadi pembina dapat menjadi penggerak program di sekolah masing-masing sehingga kebiasaan menabung tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
“Peran para guru yang menjadi pembina program ini nantinya bisa menjadi penggerak akselerasi keuangan di sekolahnya,” ujarnya.
Jufri pun mengajak seluruh pihak menjadikan kebiasaan menabung sebagai bagian dari kehidupan pelajar.
“Mari kita jadikan menabung sebagai budaya. Jadikan sekolah menjadi ruang pertama anak belajar untuk mengelola masa depannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS III Sulawesi, Maluku dan Papua, Fuad Zaen mengatakan, Program Pelajar Sulsel Menabung dilaksanakan melalui kolaborasi lintas lembaga dan instansi untuk menumbuhkan budaya menabung di kalangan pelajar.
Menurut Fuad, program tersebut merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia dan melibatkan LPS bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
“Dengan kolaborasi lintas lembaga dan instansi, LPS bersama OJK, Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, serta stakeholder terkait, untuk menumbuhkan budaya menabung di kalangan pelajar,” ungkapnya.
Selain mendorong kebiasaan menabung, program tersebut juga akan diisi dengan kompetisi menabung bagi para peserta. Fuad menjelaskan, konsepnya mengadaptasi Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Menabung yang selama ini dikenal dalam kegiatan Pramuka.
Para pelajar akan mengikuti rangkaian kegiatan selama program berlangsung dan mendapatkan apresiasi berdasarkan kategori penilaian yang telah ditetapkan.
Fuad menyebut, tingkat inklusi keuangan di Sulawesi Selatan pada 2026 telah mencapai 94,27 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada pada angka 61,03 persen.
“Melalui program ini menjadi langkah untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar,” katanya.
Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Perizinan LJK OJK Sulselbar, Arif Machfoed, turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut.
Baca Juga:
Menurutnya, program ini diharapkan tidak hanya membangun kebiasaan menabung, tetapi juga membentuk karakter pelajar dalam mengelola keuangan secara lebih bijak.
Dukungan serupa disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Bayu Martanto. Ia menilai kebiasaan menabung perlu dikenalkan sejak dini agar pelajar tidak hanya belajar menyimpan uang, tetapi juga memahami pentingnya perencanaan keuangan.
“Bank Indonesia sangat mendukung program ini. Lewat program ini tidak hanya belajar untuk menyimpan uang, namun mengajarkan merencanakan lebih bijak,” ujarnya.
Program Pelajar Sulsel Menabung diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan sejak usia sekolah. Dengan keterlibatan sekolah, pembina, pemerintah daerah, serta lembaga terkait, kebiasaan menabung diharapkan dapat berkembang menjadi budaya dalam pengelolaan keuangan pelajar. (****)