Selasa, 14 Juli 2026 12:19 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com – Pemerintah Kota Makassar memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana melalui kolaborasi lintas sektor. Selain meningkatkan kesiapan personel dan pemangku kepentingan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar juga menggandeng 23 perguruan tinggi untuk mencetak ribuan mahasiswa yang memiliki kompetensi dasar di bidang kebencanaan.
Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Kota Makassar Tahun Anggaran 2026 yang digelar BPBD Kota Makassar di Anjungan MNEK, Center Point of Indonesia (CPI), Selasa (14/7/2026).
Apel diikuti unsur BPBD, TNI, Polri, Basarnas, organisasi perangkat daerah (OPD), relawan kebencanaan, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bentuk penguatan sinergi dalam menghadapi ancaman bencana di Kota Makassar.
Munafri menegaskan penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga:
“Potensi bencana datang kapan saja. Karena itu, penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Munafri.
Menurutnya, seluruh upaya penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam membangun ketangguhan daerah.
Ia menjelaskan pelaksanaan apel kesiapsiagaan merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menekankan pentingnya kolaborasi seluruh komponen bangsa dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang efektif.
Munafri menegaskan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan momentum memperkuat komitmen, menguji kesiapan personel, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyatukan langkah, menguji kesiapan personel dan sumber daya, serta memperkokoh sinergi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kota Makassar,” katanya.
Ia menilai budaya latihan, simulasi, dan edukasi kebencanaan secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat.
Menurut Munafri, budaya sadar bencana harus menjadi bagian dari karakter warga Kota Makassar agar setiap individu, keluarga, maupun komunitas mampu mengenali risiko, melakukan mitigasi, dan bertindak cepat saat terjadi keadaan darurat.
“Budaya sadar bencana harus menjadi bagian dari karakter masyarakat sehingga setiap orang memahami risiko, mampu melakukan mitigasi, dan siap bertindak ketika menghadapi situasi darurat,” tegasnya.
Munafri juga mengingatkan bahwa Kota Makassar memiliki sejumlah potensi ancaman bencana, mulai dari banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga banjir rob yang dipengaruhi perubahan iklim. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Ia turut mendorong penerapan prinsip Build Back Better, yakni membangun kembali wilayah terdampak secara lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh setelah terjadi bencana.
Selain itu, Munafri mengajak seluruh unsur pentahelix—pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat—untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem penanggulangan bencana berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, kolaborasi sebagai kekuatan, dan ketangguhan sebagai karakter Kota Makassar,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, BPBD Kota Makassar menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 23 perguruan tinggi sebagai langkah memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang kebencanaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang tangguh menghadapi bencana.
“Kolaborasi ini menjadi investasi besar dalam membangun sumber daya manusia kebencanaan di Kota Makassar,” katanya.
Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar langsung di lapangan, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan bencana.
Baca Juga:
Program ini menargetkan sedikitnya 1.000 mahasiswa dari setiap perguruan tinggi yang terlibat. Dengan demikian, sekitar 23.000 mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi dasar di bidang kebencanaan dan siap menjadi agen edukasi serta mitigasi di tengah masyarakat.
Menurut Fadli, membangun ketangguhan daerah tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ketangguhan tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga dengan menyiapkan generasi muda yang memiliki kapasitas, kepedulian, dan kesiapan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana di Kota Makassar,” jelasnya.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, BPBD berharap budaya sadar bencana semakin meluas di lingkungan kampus maupun masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan Kota Makassar dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang. (****)