Selasa, 28 April 2026 16:31 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com, JAKARTA - Senin malam 27 April 2026, taksi listrik Green SM dengan kendaraan Vinvast terhenti di perlintasan rel JPL 85 Bekasi Timur, dihantam KRL, lalu KRL itu ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari belakang. Hingga siang tadi, dikabarkan 14 orang tewas, 84 luka-luka.
Namun demikian, saat ini ada indikasi terjadi tragedi kedua yang terjadi setelahnya — bukan di rel, melainkan di Instagram. Dan ini yang langsung viral.
Sopir Green SM mengaku kemudi langsung terkunci saat posisi kendaraan sudah melewati batas aman perlintasan. Sistem kendaraan yang terkunci membuat roda tidak bisa bergerak sama sekali — warga yang mencoba mendorong pun tidak berhasil. KNKT sedang menyelidiki: apakah ini defect sistem kendaraan atau kelalaian prosedur pengemudi. Dua jawaban ini punya implikasi yang sangat berbeda.
Green SM merilis pernyataan resmi dini hari Selasa yang tidak memuat satu pun kata permintaan maaf kepada korban. Fokusnya hanya pada komitmen keselamatan dan dukungan investigasi — dan kolom komentar langsung ditutup setelah pernyataan itu memantik kecaman publik. Warganet bereaksi keras. Bukan karena tidak mengerti proses hukum. Tapi karena empati bukan urusan hukum — empati adalah urusan manusia.
Wajar untuk mengevaluasi kenyamananmu menggunakan layanan Green SM sementara investigasi KNKT berlangsung. Bukan panik — tapi informed decision.
Menutup kolom komentar setelah adanya potensi krisis komunikasi bukan strategi manajemen reputasi — itu sinyal yang dibaca publik sebagai menghindar. Dalam era digital, diam yang salah waktu lebih mahal dari permintaan maaf yang tulus.
Satu insiden bukan data statistik keamanan EV. Tapi ini pengingat bahwa adopsi teknologi baru di sektor publik butuh kesiapan SOP dan infrastruktur — bukan hanya kesiapan produknya.
Seperti diketahui Green SM beroperasi di bawah Green and Smart Mobility (GSM), perusahaan yang didirikan langsung oleh Pham Nhat Vuong — pendiri Vingroup sekaligus orang terkaya Vietnam. Layanan ini baru masuk Indonesia pada akhir Desember 2024. Artinya, mereka beroperasi kurang dari 18 bulan di Indonesia sebelum insiden ini terjadi.
Namun demikian, Ini bukan cerita tentang EV yang gagal. Ini cerita tentang ekspansi yang bergerak lebih cepat dari kesiapan sistemnya — dan tentang bagaimana sebuah perusahaan memilih untuk bersikap ketika hal terburuk terjadi.
"Tragedi Bekasi bukan hanya soal taksi yang mogok di rel — ini tentang bagaimana brand besar merespons krisis komunikasi dan apa yang bisa kita semua pelajari dari pilihan komunikasi yang salah di saat yang paling genting."
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh trenasia pada 28 Apr 2026