Selasa, 03 Maret 2026 19:34 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran gangguan serius pada pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Lonjakan harga yang terjadi hari ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir, mencerminkan respons cepat pasar terhadap risiko geopolitik yang meningkat.
Berdasarkan data perdagangan 3 Maret 2026, dua kontrak utama minyak dunia mencatat kenaikan signifikan. Brent sebagai patokan global berada di level US$77,74 per barel atau naik 6,7% secara harian, dengan level tertinggi intraday menyentuh US$82,37.
Baca Juga:
Sementara itu, WTI sebagai patokan Amerika Serikat berada di US$71,23 per barel atau naik 6,3%, dengan level tertinggi intraday mencapai US$75,33. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko yang langsung diperhitungkan pasar akibat potensi gangguan distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk.
Fokus kekhawatiran pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia dan dilalui sekitar 20% pasokan minyak global setiap hari.
Laporan terbaru menyebut aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu, dengan puluhan kapal tanker tertahan akibat meningkatnya risiko keamanan. Iran juga mengeluarkan peringatan terhadap kapal yang melintas, memicu kekhawatiran pasar akan kemungkinan blokade atau gangguan berkepanjangan.
Setiap potensi gangguan di jalur ini hampir selalu memicu lonjakan harga minyak karena terbatasnya alternatif distribusi untuk volume sebesar itu.
Selain risiko pelayaran, eskalasi konflik juga berdampak pada infrastruktur energi regional. Serangan balasan dilaporkan memicu penutupan sementara sejumlah fasilitas produksi penting, termasuk kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco yang merupakan salah satu kilang terbesar di Arab Saudi.
Di sisi lain, produksi LNG di Qatar juga dilaporkan mengalami penghentian sementara sebagai langkah pengamanan. Kombinasi gangguan produksi dan distribusi ini memperkuat sentimen kenaikan harga dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi defisit pasokan energi global.
Sejumlah analis memperkirakan volatilitas harga masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. JPMorgan Chase memperkirakan apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung selama tiga hingga empat minggu, harga Brent berpotensi melampaui US$100 per barel.
Bahkan dalam skenario krisis berkepanjangan dan eskalasi yang menyeret lebih banyak negara produsen, harga minyak dapat menembus kisaran US$120 hingga US$140 per barel. Proyeksi ini menunjukkan sensitivitas pasar energi terhadap stabilitas geopolitik di kawasan Teluk.
Baca Juga:
Lonjakan harga minyak dunia segera berdampak pada pasar domestik, terutama produk energi nonsubsidi. Memasuki Maret 2026, harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian.
Pertamax misalnya, naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800 per liter. Kenaikan ini mengikuti tren harga minyak global yang terus menanjak. Selain itu, harga avtur berpotensi ikut meningkat sehingga dapat membebani maskapai penerbangan dan pada akhirnya berdampak pada harga tiket pesawat.
Harga energi merupakan komponen penting dalam struktur biaya produksi dan distribusi barang. Kenaikan minyak dapat mendorong biaya logistik, mempersempit margin pelaku usaha, serta meningkatkan risiko inflasi.
Jika tren ini berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi tertekan. Risiko akan semakin besar apabila konflik meluas dan melibatkan lebih banyak negara produsen utama di kawasan Teluk, yang dapat memicu gangguan pasokan dalam skala besar dan waktu yang lebih lama.
Lonjakan harga minyak pada 3 Maret 2026 bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan respons langsung terhadap risiko geopolitik yang mengancam jalur distribusi dan produksi energi global.
Dengan Brent sudah menyentuh US$82 secara intraday dan potensi menuju US$100 jika gangguan berlanjut, pasar energi memasuki fase ketidakpastian tinggi. Bagi Indonesia, dampaknya mulai terasa melalui kenaikan BBM nonsubsidi dan potensi tekanan inflasi yang lebih luas, sehingga perkembangan situasi di Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor kunci arah harga energi global.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Mar 2026