Selasa, 14 April 2026 04:45 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com - Di tengah tekanan biaya hidup dan tren kredit konsumtif, keputusan membeli mobil terutama melalui skema cicilan menjadi langkah finansial yang perlu dihitung secara matang.
Banyak masyarakat melihat mobil sebagai kebutuhan, namun tidak sedikit yang akhirnya terbebani cicilan karena salah perencanaan. Lantas, kapan seseorang benar-benar layak memiliki mobil? Bagaimana cara menghitung kemampuan kredit, serta apa risiko yang harus diantisipasi?
Baca Juga:
Secara fungsi, mobil dibutuhkan ketika mobilitas tinggi tidak bisa lagi ditopang transportasi umum, atau ketika kebutuhan keluarga menuntut efisiensi waktu dan fleksibilitas.
Namun dari sisi finansial, ada indikator yang lebih penting,
Jika belum memenuhi poin tersebut, mobil berpotensi menjadi beban, bukan solusi.
Sebagai gambaran sederhana TrenAsia mencoba mengkalkulasikan simulasi kredit mobil berikut,
Artinya, agar tetap sehat secara finansial:
Selain cicilan, ada biaya lain yang wajib diperhitungkan:
Total biaya tambahan ini bisa mencapai 30–50% dari nilai cicilan. Artinya, jika cicilan Rp5 juta, total beban riil bisa Rp6,5–Rp7,5 juta per bulan
Mengambil kredit mobil bukan sekadar soal mampu membayar cicilan setiap bulan. Ada sejumlah risiko struktural yang sering tidak disadari sejak awal, namun dampaknya bisa signifikan terhadap kondisi keuangan.
Nilai mobil cenderung turun cepat, bahkan bisa mencapai 10–20% di tahun pertama. Artinya, saat cicilan masih berjalan, nilai aset justru sudah jauh berkurang. Dalam banyak kasus, sisa utang lebih besar dibanding nilai jual mobil (negative equity).
Cicilan bersifat wajib dan tidak fleksibel. Ketika kondisi ekonomi memburuk atau penghasilan turun, kewajiban ini tetap harus dibayar tanpa penyesuaian otomatis.
Selain cicilan, ada biaya tambahan seperti BBM, servis, asuransi, dan pajak. Jika tidak dihitung sejak awal, total pengeluaran bisa mengganggu arus kas bulanan dan mengurangi kemampuan menabung.
Pada skema bunga mengambang, cicilan bisa meningkat jika terjadi kenaikan suku bunga, sehingga beban bulanan ikut naik.
Baca juga : Pakai B50, Isi Bensin Mobil Full Tank Butuh 200 Kg Sawit
Mobil bukan aset yang mudah dicairkan dengan harga optimal dalam waktu cepat. Saat butuh dana darurat, menjual mobil sering kali berarti rugi besar.
Risiko terbesar biasanya muncul saat terjadi guncangan finansial, seperti:
Dalam kondisi seperti ini, cicilan mobil bisa menjadi beban paling berat karena sifatnya yang tidak bisa ditunda.
Dalam situasi darurat, penting memahami alur yang biasanya terjadi agar bisa mengambil langkah mitigasi lebih cepat. Berikut tahapan umum dalam kasus keterlambatan hingga gagal bayar,
Jika debitur masih memiliki itikad baik, biasanya leasing membuka opsi:
Jika tidak ada pembayaran atau kesepakatan:
Banyak yang mengira kewajiban selesai setelah kendaraan diambil. Faktanya, utang tetap ada jika hasil lelang tidak menutup seluruh pinjaman.
Baca Juga:
Gagal bayar akan tercatat dalam sistem kredit nasional, sehingga menyulitkan pengajuan pinjaman di masa depan (KPR, KTA, kartu kredit).
Menghindari komunikasi dengan leasing justru mempercepat proses penarikan. Sebaliknya, komunikasi aktif membuka peluang restrukturisasi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Apr 2026