58 Persen Konsumen Pakai AI untuk Riset Pembelian

Selasa, 13 Oktober 2026 12:37 WIB

Penulis:El Putra

Editor:El Putra

58 Konsumen Gunakan AI untuk Riset Pembelian, Brand Mulai Berebut Visibilitas di Jawaban AI.jpg
(null)

MAKASSARINSIGHT.com - Cara konsumen mencari informasi dan mempertimbangkan produk sebelum membeli kini mulai berubah seiring perkembangan teknologi. Jika sebelumnya proses pencarian produk lebih banyak dimulai melalui mesin pencari dan berlanjut ke berbagai situs web, kini kecerdasan buatan (AI) semakin dimanfaatkan konsumen untuk melakukan riset produk, membandingkan pilihan, hingga menentukan keputusan pembelian.

Laporan The B2C Buyer Experience Report 2026 dari Invoca menemukan 58% konsumen di Amerika Serikat menggunakan generative AI untuk meneliti pembelian berisiko tinggi pada 2026, meningkat dari 41% pada tahun sebelumnya. 

Sementara itu, riset Boston Consulting Group (BCG) terhadap lebih dari 13.000 konsumen di 12 pasar menemukan bahwa 31% konsumen global sudah menggunakan AI setidaknya sesekali dalam perjalanan pembelian mereka.

Perubahan tersebut membuat cara brand mendapatkan perhatian konsumen ikut bergeser. Konsumen tidak lagi selalu mencari daftar situs untuk dibandingkan satu per satu. Mereka dapat langsung bertanya kepada AI mengenai produk, kategori, atau rekomendasi, lalu menggunakan jawaban tersebut sebagai titik awal untuk menentukan pilihan.

Baca Juga: 

Dampaknya terhadap brand cukup besar. Data Net Conversion pada 2026 menunjukkan bahwa 74% konsumen yang menggunakan AI untuk melakukan riset mengatakan bahwa rekomendasi AI memperluas jumlah brand yang mereka pertimbangkan. 

BCG juga menemukan bahwa AI memperkenalkan konsumen kepada brand yang sebelumnya tidak akan mereka pertimbangkan dalam sekitar 63% perjalanan pembelian yang dibantu AI.

Artinya, AI bukan sekadar tempat untuk mencari informasi. Sistem AI fmulai berperan dalam menentukan brand mana yang masuk ke consideration set konsumen.

Dari Mendapatkan Klik ke Masuk dalam Jawaban

Perubahan ini terjadi bersamaan dengan menurunnya ketergantungan konsumen terhadap klik dari hasil pencarian tradisional. Analisis SparkToro menggunakan data Similarweb menunjukkan bahwa 68,01% pencarian Google di Amerika Serikat berakhir tanpa klik ke situs eksternal pada periode Januari hingga April 2026.

Kemunculan AI-generated answers memperkuat perubahan tersebut. Ketika informasi yang dibutuhkan sudah dirangkum langsung di dalam halaman pencarian atau diberikan melalui chatbot, pengguna tidak selalu memiliki alasan untuk mengunjungi setiap sumber yang digunakan sistem.

Bagi brand, kondisi ini menciptakan bentuk persoalan baru. Visibilitas tidak lagi hanya ditentukan oleh apakah sebuah halaman berhasil mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian, tetapi juga oleh apakah brand tersebut muncul ketika konsumen meminta jawaban atau rekomendasi dari AI.

“Dulu kita bisa melihat visibility dengan cukup sederhana. Brand muncul di Google, orang klik, lalu kita bisa mengukur traffic-nya. Di AI, prosesnya berbeda. Konsumen bisa mendapatkan jawaban tanpa pernah mengunjungi situs kita,” ujar Alexandro Wibowo, Partner of Avonetiq.

Menurut Alexandro, perubahan ini tidak berarti SEO menjadi tidak relevan. Situs dan fondasi pencarian tetap dibutuhkan, tetapi brand perlu memahami bahwa ada lapisan baru dalam perjalanan discovery yang tidak bisa diukur hanya dari ranking dan trafik organik.

“Sekarang pertanyaannya bukan hanya apakah brand kita bisa ditemukan, tetapi apakah ketika seseorang bertanya kepada AI, brand kita menjadi bagian dari jawabannya,” tambahnya.

Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Tyo S pada 12 Oct 2026