Ekonomi & Bisnis
Thamrin City Berbagi Tips Merawat Batik Dengan Benar
Pandemi COVID-19, tak menjadi penghalang untuk tetap kreatif dan produktif. Seperti yang dilakukan Thamrin City yang menggelar kegiatan online bertajuk “Mengenal dan Merawat Batik Nusantara” pada Senin, 27 April 2020. Kegiatan yang diadakan melalui platform Instagram ini, memberikan edukasi mengenai perawatan batik yang baik dan benar.
GM PR & Promotion Thamrin City Sindiwaty Mastra menjelaskan sebagai pusat perbelanjaan yang telah 10 tahun membentuk Pusat Batik Nusantara di Jakarta, Thamrin City ingin terus memberikan informasi yang edukatif untuk para pelanggan melalui acara virtual seperti ini.
"Inisiatif diskusi mengenai batik dilakukan untuk mendukung penjualan para tenant di tengah pandemi Covid-19. Beberapa tenant kami telah melakukan penjualan via online untuk itu aktivitas ekonomi harus tetap berjalan sekaligus meningkatkan daya tarik dan daya beli masyarakat terhadap karya batik nusantara yang menjadi salah satu budaya bangsa," tambah Sindi.
Thamrin City merupakan pusat perbelanjaan ternama yang merupakan unit bisnis PT Agung Podomoro Land Tbk, perusahaan properti terintegrasi di Indonesia. Selama masa pandemi kata Sindi, Thamrin City akan menggelar diskusi ringan via online sehingga masyarakat juga mendapatkan edukasi komprehensif mengenai beragam informasi yang berkualitas.
Untuk membuat diskusi lebih atraktif, pihak Thamrin City mengundang Humas Museum Tekstil Indonesia Ardi Hariyadi untuk memberikan edukasi mengenai perawatan batik. Ardi mengatakan kain batik merupakan salah satu warisan nusantara yang paling dibanggakan orang Indonesia. Hampir semua orang Indonesia mengenal dan memiliki kain batik yang biasanya dijadikan sebagai busana.
Ardi menjelaskan, batik Indonesia merupakan bagian dari karya seni yang ditorehkan pada selembar kain dengan menggunakan canting dan lilin malam sebagai perintang warnanya. Definisi batik ini perlu dipahami karena sering kali masyarakat salah kaprah dengan dalam memahaminya.
"Batik bukanlah sebuah motif, melainkan proses pembuatan motif di kain dengan menggunakan canting dan malam," katanya. Jadi, kain yang tidak menggunakan metode ini tidak dapat disebut sebagai batik, tetapi kain dengan motif batik.
Selain berbagi mengenai sejarah batik Indonesia, Ardi juga memberikan penjelasan mengenai cara praktis untuk merawat kain batik agar kualitasnya tetap terjaga dan awet. “Karena kain batik menggunakan bahan-bahan alami, perawatannya juga harus diperhatikan lebih serius,” katanya. Hal ini penting karena kain batik harus tetap dijaga agar kualitas warna dan kainnya tetap baik.
Bagaimana cara merawat kain batik? Pertama, perhatikan tempat penyimpanan batik. Kain batik sebaiknya disimpan di tempat yang tidak terlalu banyak terpapar cahaya dan sinar matahari. Ardi mengatakan, cahaya atau sinar matahari dapat menyebabkan pemudaran atau degradasi warna. Warna kain batik yang pudar mengurangi nilai dan kualitas batik tersebut.
Kedua, suhu tempat penyimpanan batik jangan berubah. Batik dapat disimpan di mana saja dengan catatan tempat itu memiliki suhu yang stabil dan tidak mengalami fluktuasi suhu yang tinggi. “Fluktuasi suhu membuat kain batik menjadi rentan rusak, jadi sebisa mungkin simpan batik di ruangan dengan suhu 16-25°C. Pastikan juga ruangan tersebut memiliki sirkulasi udara yang baik dan bersih.
Ketiga, pastikan untuk mencuci kain batik dengan cara yang benar. Jangan mencuci batik dengan cara menyikat maupun mengucek kain. “Sebisa mungkin batik tersebut dibentangkan ketika dicuci,”kata Ardi. Demikian juga dengan penggunaan sabun cuci, sebaiknya mencuci batik dengan menggunakan lerak atau sabun pencuci batik yang kini banyak dijual di pasaran.
“Lebih simpel untuk di rumah, silakan cuci batik dengan sampo atau sabun bayi. Produk ini lebih aman bagi batik dibandingkan dengan menggunakan deterjen,” pungkasnya.