Komunitas
Merasa Tertinggal Melihat Pencapaian Orang Lain? Ini Saran Psikolog
MAKASSARINSIGHT.com – Melihat pencapaian orang lain di media sosial terkadang membuat seseorang merasa tertinggal dalam menjalani kehidupan. Mulai dari karier, pendidikan, hingga kondisi finansial, berbagai pencapaian yang muncul di layar ponsel dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dan mengikis kepercayaan diri.
Psikolog Klinis Atharana Aliyya mengingatkan pentingnya mengelola penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain. Pasalnya, apa yang terlihat di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
“Pada akhirnya kita membandingkan apa yang kita punya berdasarkan apa yang kita lihat di media sosial,” ucap Atharana.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa kehidupannya tidak pernah cukup. Ketika pencapaian orang lain terus dijadikan tolok ukur, seseorang berisiko mengabaikan perkembangan dan hal-hal positif yang telah dicapai dalam kehidupannya sendiri.
Baca Juga:
- Taklukkan Trek Rinjani, Puluhan Pesepeda Ramaikan Gathering Yeti Tribe Indonesia
- Awal Chairuddin Bidik Regenerasi Soft Tennis, 100 Atlet Bersaing di Makassar
- Jelang Munas IOF, ARA Usulkan Suyudi Ario Seto Jadi Ketua Umum
“Ketika memang kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain tentunya ga pernah cukup,” kata Atharana, dilansir Antara, 27 Oktober 2026.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pencapaian orang lain tidak seharusnya menjadi satu-satunya standar untuk mengukur keberhasilan diri. Setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda sehingga perbandingan yang tidak tepat dapat menimbulkan tekanan emosional.
Psikolog Sarankan Membandingkan Diri dengan Masa Lalu
Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, Atharana menyarankan agar seseorang melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu. Cara ini dapat membantu seseorang mengenali kemajuan yang telah dicapai tanpa harus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran utama.
Menurut dia, pertumbuhan pribadi perlu mendapatkan apresiasi, termasuk ketika perubahan yang terjadi tidak selalu terlihat besar atau berlangsung secepat pencapaian orang lain. “Kalau memang ada pertumbuhan, apresiasi itu,” ucapnya.
Pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan mengevaluasi perkembangan diri dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keterampilan, pendidikan, pekerjaan, maupun kemampuan mengelola emosi. Dengan demikian, seseorang dapat berfokus pada proses yang sedang dijalani dan menetapkan target yang sesuai dengan kondisinya.
Mengelola penggunaan media sosial juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Ketika aktivitas di dunia digital mulai memengaruhi suasana hati atau penilaian terhadap diri sendiri, seseorang dapat mempertimbangkan untuk mengambil jeda dan mengalihkan perhatian pada kegiatan lain.
Atharana menjelaskan bahwa perubahan emosi dan perilaku, seperti lebih sering merasa sedih atau takut, dapat menjadi sinyal bagi seseorang untuk memperhatikan kondisi dirinya. Situasi tersebut dapat menjadi alasan untuk mengambil waktu beristirahat, berekreasi, atau melakukan aktivitas yang membantu menjaga keseimbangan hidup.
Baca Juga:
- Wisuda 701 Santri, BKPRMI Makassar: Belajar Al-Qur’an Tak Berhenti di Sini
- Ini 6 Cara Hemat Tagihan Saat Cuaca Panas
- Antisipasi Banjir, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot Air dari Jepang
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah menerapkan gaya hidup sehat melalui olahraga rutin dan pola makan seimbang. “Bisa coba me time dengan olahraga rutin dan pola makan seimbang,” ungkapnya.
Selain aktivitas fisik, memberikan waktu untuk diri sendiri atau me time dapat menjadi kesempatan untuk mengurangi tekanan dari rutinitas sehari-hari. Pilihan aktivitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing individu.
Atharana juga menyoroti perhatian generasi muda terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Sebagian orang memilih aktivitas seperti mengikuti kelas yoga sebagai salah satu cara untuk membantu mengelola emosi.
“Jadi kalau ada perubahan emosi misalnya lebih banyak sedih atau takut, ada yang ikut kelas yoga,” kata Atharana.
Meski demikian, perubahan emosi yang berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak diabaikan. Jika diperlukan, seseorang dapat mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental untuk memperoleh dukungan yang sesuai.
Jutaan Penduduk Indonesia Mengalami Depresi
Pentingnya menjaga kesehatan mental juga tercermin dalam data nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4%, atau diperkirakan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa depresi merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian. Namun, angka tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa penggunaan media sosial menjadi penyebab depresi.
Dalam konteks kehidupan digital, pengelolaan penggunaan media sosial menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan ketika seseorang merasa aktivitas daring mulai memengaruhi suasana hati dan penilaian terhadap dirinya sendiri.
Melihat pencapaian orang lain tidak harus berujung pada perasaan tertinggal. Seseorang dapat menjadikan pengalaman tersebut sebagai inspirasi, sembari tetap menyadari bahwa setiap individu memiliki proses dan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Pesan utama yang ditekankan Atharana adalah pentingnya mengapresiasi pertumbuhan diri. Dengan berfokus pada perkembangan pribadi, menjaga keseimbangan aktivitas, serta memperhatikan perubahan emosi, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri maupun dengan media sosial.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 01 Nov 2026
