Komunitas
Ini Alasan Muhammadiyah Bisa Jadi Ormas yang Kaya
MAKASSARINSIGHT.com - Muhammadiyah dikenal sebagai salah satu organisasi massa (ormas) Islam dengan kekuatan ekonomi terbesar di Indonesia. Bahkan, secara global, Muhammadiyah menempati peringkat keempat organisasi keagamaan terkaya di dunia, berdasarkan pengelolaan aset dan amal usaha yang dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan.
Laporan platform data Seasia.stats pada bulan Maret 2025 mencatat total kekayaan Muhammadiyah berada di kisaran Rp 454,24 triliun hingga Rp 460 triliun, atau setara sekitar US$ 27,96 miliar.
Nilai tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu institusi keagamaan dengan basis aset terbesar, tidak hanya di Asia Tenggara tetapi juga di tingkat Dunia.
Kekayaan Muhammadiyah tidak berasal dari kepemilikan individu, melainkan dari aset kolektif organisasi yang dikelola dalam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Baca Juga:
- 2026, Tarif Listrik Rumah Tangga hingga Industri Aman
- Sejarah, 6 Kota Hilang Yang Belum Ditemukan Arkeolog
- PAD Makassar 2025 Tembus Rp1,9 Triliun, Rekor Tertinggi
Seluruh aset tersebut tercatat atas nama persyarikatan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, sosial, serta pemberdayaan ekonomi umat.
Keberhasilan Muhammadiyah dalam membangun kekuatan ekonomi tidak lepas dari pengelolaan wakaf yang produktif. Tanah wakaf yang dimiliki tidak hanya digunakan untuk masjid atau tempat ibadah, tetapi dikembangkan menjadi sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan yang memberikan layanan kepada masyarakat luas sekaligus menopang keberlanjutan organisasi.
Selain itu, partisipasi anggota yang kuat dan loyal menjadi faktor penting. Kontribusi berupa infak, zakat, dan donasi dari anggota maupun simpatisan memperkuat pembiayaan operasional ribuan lembaga Muhammadiyah di berbagai daerah.
Prinsip organisasi yang menekankan pengabdian, dikenal dengan semboyan “Hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, turut menjaga tata kelola aset tetap berorientasi pada pelayanan umat.
Jaringan lembaga Muhammadiyah yang terintegrasi juga menjadi keunggulan. Sektor pendidikan, kesehatan, dan keuangan saling mendukung, menciptakan ekosistem yang berkelanjutan. Alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah banyak yang kembali berkontribusi, baik secara finansial maupun keahlian, sehingga roda organisasi terus bergerak.
Dengan model pengelolaan yang profesional dan berbasis kolektivitas, Muhammadiyah tidak hanya menjadi kekuatan sosial-keagamaan, tetapi juga aktor penting dalam pembangunan sumber daya manusia dan pelayanan publik di Indonesia.
Baca Juga:
- Prof Juhanis Pimpin FOPI Makassar 2025–2029, Fokus Usia Dini
- Cuaca Ekstrem Akhir Tahun, Munafri Minta Warga Waspada
- Pemkot–DPRD Makassar Sepakati Tiga Ranperda Strategis
Data Aset Muhammadiyah
- Total kekayaan: Rp 454,24–Rp 460 triliun
- Tanah wakaf: ± 21 juta meter persegi
- Masjid dan mushola: lebih dari 11.000–13.000 unit
- Sekolah dan madrasah: sekitar 7.000–19.951 unit
- Perguruan tinggi: 176 universitas
- Pondok pesantren: sekitar 102–400 unit
- Rumah sakit dan klinik: 457 unit
- Panti asuhan: 635 unit
- Bank syariah/BPRS: sekitar 750–765 unit
- Baitul mal: 437 unit
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 02 Jan 2026
