Ekonomi & Bisnis
Pabrik Pupuk Papua Dinilai Percepat Produktivitas Pertanian
JAKARTA – Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai akan membawa perubahan langsung bagi petani Papua melalui kemudahan akses pupuk dan peningkatan produktivitas pertanian. Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, yang akrab dipanggil Billy Mambrasar, menyebut selama ini tingginya biaya pengiriman pupuk menjadi tantangan utama sektor pertanian di Papua.
Billy menjelaskan bahwa dengan hadirnya pabrik pupuk di wilayah tersebut, efisiensi logistik dinilai dapat dicapai.
“Cost biaya pengiriman pupuk itu kan menjadi hampir lebih sepertiga dari biaya pertanian selain biaya tenaga kerja. Jadi bayangkan ketika terjadi hilirisasi pupuk dan biaya logistiknya lebih murah,” ujar Billy, dikutip Sabtu, 17 Januari 2026.
BACA JUGA: Industri Pupuk Dorong Ketahanan Pangan dan Hilirisasi Papua
Menurut Billy, efisiensi logistik tersebut akan berdampak langsung pada daya saing sektor pertanian di Papua.
“Maka kita bisa menekan biaya hingga sepertiga dari yang sekarang. Artinya lebih kompetitif produk pertaniannya,” jelas Billy.
Selain efisiensi biaya, Billy juga menilai kedekatan akses pupuk berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas petani, terutama di wilayah dengan tantangan geografis dan jarak distribusi yang panjang.
“Petani-petani lokal yang ada di wilayah-wilayah yang selama ini ketika mendatangkan pupuk harus nunggu berjam-jam. Itu bisa terbantu dengan availability yang ada. Jadi produktivitasnya naik,” jelas Billy.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi pertanian akan berdampak pada harga komoditas pertanian yang lebih kompetitif, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Sejalan dengan itu, Billy juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem industri pertanian secara menyeluruh di Papua agar manfaat pembangunan pabrik pupuk dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Jika industri hulu seperti benih unggul, pupuk, dan alat mesin pertanian diperkuat, serta industri hilir seperti pengolahan, pengemasan, dan distribusi dibangun di dekat sentra produksi, maka dampaknya akan sangat besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan petani,” ujar Billy.
Hilirisasi dan Dampak Ekonomi Daerah
Lebih jauh, Billy menilai bahwa pembangunan Pabrik Pupuk di Fakfak, Papua Barat juga dapat memperkuat hilirisasi sumber daya alam, khususnya gas alam sebagai salah satu bahan utama produksi pupuk. Menurutnya, pemanfaatan gas alam untuk kebutuhan industri pupuk di dalam negeri dapat menciptakan dampak ekonomi yang luas.
“Misalnya dari gas alam yang ada di situ, itu yang tadinya 100% di-export bisa terjadi hilirisasi gas alam juga. Sebagiannya dialokasi untuk pabrik pupuk,” tutur Billy.
Ia menambahkan, pengembangan industri pupuk di Papua berpotensi menghadirkan multiplier effect bagi perekonomian daerah. “Jadi bayangkan dampak bergandanya itu luar biasa dari sisi income, revenue, sampai ke penyerapan tenaga kerja,” tutur Billy.
