Jumat, 13 Februari 2026 10:20 WIB
Penulis:Isman Wahyudi
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com - Perlombaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi hanya soal siapa yang mengembangkan teknologi paling canggih, tetapi siapa yang paling cepat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Laporan sejumlah riset menunjukkan peta adopsi AI global tidak selalu sejalan dengan peta kekuatan teknologi dunia. Alih-alih negara besar seperti Amerika Serikat yang memimpin pengembangan model AI, justru sejumlah negara kecil dan maju mencatat tingkat penggunaan AI tertinggi di tingkat populasi.
Dikutip laman The Economist, Kamis, 12 Desember 2026, berikut sederet negara dengan presentase populasi paling banyak menggunakan AI sebagai alat bantu kehidupan sehari hari.
Baca Juga:
Berdasarkan data The Economist, Uni Emirat Arab (UAE) menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat adopsi AI generatif tertinggi di dunia. Sebanyak 64% populasi usia kerja di UAE tercatat menggunakan AI generatif secara aktif pada paruh kedua 2025.
Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang hanya sekitar 16,1%, sekaligus menempatkan UAE sebagai contoh bagaimana strategi nasional yang terarah dapat mempercepat transformasi digital secara masif.
Pemerintah UAE dalam beberapa tahun terakhir memang agresif membangun ekosistem AI, mulai dari pembentukan kementerian khusus AI, investasi besar dalam infrastruktur komputasi dan pusat data, hingga integrasi teknologi AI dalam layanan publik, pendidikan, dan sektor bisnis.
Lingkungan regulasi yang adaptif serta dukungan terhadap startup teknologi juga menciptakan kultur adopsi yang cepat di kalangan profesional maupun pelaku usaha.
Singapura berada di posisi kedua dengan tingkat adopsi 60,9% dari populasi usia kerja. Sebagai negara-kota dengan infrastruktur digital yang sangat matang, Singapura telah lama menempatkan transformasi digital sebagai pilar strategi ekonomi nasionalnya.
Program seperti Smart Nation Initiative mendorong penggunaan teknologi canggih, termasuk AI, di berbagai sektor, mulai dari keuangan, logistik, manufaktur, hingga pelayanan publik. Tingginya literasi digital masyarakat, sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan sektor swasta mempercepat integrasi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Banyak perusahaan di Singapura tidak hanya menggunakan AI untuk otomatisasi, tetapi juga untuk pengambilan keputusan berbasis data, inovasi produk, dan efisiensi operasional.
Di kawasan Eropa, Norwegia (46,4%), Irlandia (44,6%), dan Prancis (44,0%) masuk dalam daftar negara dengan tingkat penggunaan AI generatif tertinggi di dunia.
Norwegia, misalnya, diuntungkan oleh tingkat literasi digital yang sangat tinggi serta penetrasi internet hampir menyeluruh. Sebagai negara dengan ekonomi berbasis pengetahuan dan layanan publik digital yang matang, penggunaan AI berkembang pesat baik di sektor pemerintahan, pendidikan, energi, maupun industri kreatif.
Dukungan negara kesejahteraan yang kuat juga memungkinkan investasi besar dalam pelatihan ulang (reskilling) tenaga kerja, sehingga adopsi teknologi tidak menimbulkan gejolak sosial yang signifikan.
Irlandia memiliki karakteristik berbeda namun sama kuatnya dalam mendorong adopsi. Negara ini menjadi basis Eropa bagi banyak perusahaan teknologi global, termasuk raksasa digital asal Amerika Serikat.
Ekosistem tersebut menciptakan lingkungan kerja yang sangat terbuka terhadap eksperimen dan integrasi AI dalam operasional bisnis sehari-hari. Banyak pekerja di sektor teknologi, keuangan, dan layanan profesional menggunakan AI untuk produktivitas, analisis data, serta pengembangan produk, sehingga tingkat adopsi di kalangan usia kerja relatif tinggi.
Sementara itu, Prancis menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi besar dan tradisi regulasi kuat pun mampu bergerak cepat dalam pemanfaatan AI. Pemerintah Prancis secara aktif mendorong strategi nasional AI melalui investasi riset, pengembangan talenta, serta kolaborasi antara universitas dan industri.
Pada akhir 2025, jumlah pengguna AI generatif di China mencapai sekitar 602 juta orang atau sekitar 42,8% dari total populasi internet negara tersebut. Angka ini menunjukkan hampir setengah dari warga yang terhubung ke internet di China telah memanfaatkan teknologi AI generatif dalam aktivitas digital mereka.
Peningkatan ini mencerminkan penetrasi AI yang semakin dalam dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penggunaan chatbot, pembuatan konten otomatis, pencarian informasi berbasis AI, hingga pemanfaatan dalam sektor pendidikan, e-commerce, hiburan, dan layanan publik digital.
Dengan ekosistem aplikasi domestik yang kuat dan dukungan kebijakan pemerintah terhadap inovasi teknologi, AI generatif di China bergerak cepat dari tahap eksperimen menuju penggunaan massal.
Sebelumnya, pada pertengahan 2025, jumlah pengguna AI generatif tercatat sekitar 515 juta orang, setara dengan 36,5% dari total populasi nasional. Lonjakan dari 515 juta menjadi 602 juta dalam waktu relatif singkat menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif dalam adopsi teknologi ini.
Baca Juga:
Sebaliknya, Amerika Serikat, yang menjadi pusat pengembangan banyak model AI terkemuka dunia hanya berada di posisi ke-24 secara global dengan tingkat adopsi 28,3% dari populasi usia kerja.
Secara global, sekitar 16,1% populasi usia kerja dunia menggunakan AI setidaknya sekali dalam paruh kedua 2025.
Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan regional yang cukup tajam. Negara-negara di kawasan Global North (negara maju) mencatat rata-rata adopsi AI sekitar 24,7% dari populasi usia kerja. Sementara itu, di kawasan Global South (negara berkembang), tingkat adopsi hanya sekitar 14,1%.
Perbedaan ini mencerminkan kesenjangan infrastruktur digital, akses internet, kapasitas ekonomi, serta kualitas pendidikan teknologi. Negara dengan konektivitas internet luas, ekosistem startup kuat, dan kebijakan pemerintah yang agresif dalam transformasi digital cenderung bergerak lebih cepat.
Di antara negara-negara dengan adopsi tinggi, Korea Selatan mencatat pertumbuhan tercepat. Tingkat penggunaan AI meningkat dari sekitar 25,9% menjadi 30,7%, mencerminkan lonjakan signifikan dalam waktu relatif singkat.
Tren adopsi AI juga terlihat jelas di sektor korporasi. Data global menunjukkan sekitar 78% perusahaan di dunia telah menggunakan AI, sementara 90% lainnya sedang mengeksplorasi pemanfaatannya. Ini menandakan AI telah menjadi arus utama dalam strategi bisnis, bukan lagi sekadar eksperimen teknologi.
Beberapa survei juga menunjukkan India menjadi salah satu pasar terbesar untuk penggunaan ChatGPT dan berbagai alat AI lainnya berdasarkan jumlah pengguna aktif bulanan, menegaskan bahwa populasi besar dengan penetrasi internet tinggi dapat mempercepat adopsi meski bukan negara maju sepenuhnya.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa negara-negara kecil dan kaya seperti UAE dan Singapura memiliki keunggulan struktural. Pemerintah mereka secara aktif mendorong strategi nasional AI, mempercepat regulasi, menyediakan insentif investasi, serta mengintegrasikan AI dalam layanan publik dan pendidikan.
Sebaliknya, negara besar seperti Amerika Serikat, meskipun memimpin dalam inovasi dan infrastruktur AI, menghadapi kompleksitas pasar domestik yang lebih luas, variasi literasi digital, serta ketimpangan akses yang membuat adopsi massal berjalan lebih lambat.
Secara keseluruhan, penggunaan AI global terus meningkat pesat. Namun pola adopsinya tidak merata. Negara maju dengan kesiapan infrastruktur dan dukungan kebijakan cenderung menjadi pemimpin dalam penggunaan praktis AI di tingkat masyarakat.
Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan teknologi tidak selalu identik dengan kepemimpinan adopsi. Negara yang mampu mengintegrasikan AI secara cepat dalam kehidupan sehari-hari baik untuk pekerjaan, pendidikan, maupun layanan publik memiliki keunggulan kompetitif dalam ekonomi digital ke depan.
Dalam lanskap baru ini, kecepatan beradaptasi bisa menjadi faktor penentu, bukan sekadar siapa yang pertama menciptakan teknologinya.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Feb 2026