Jumat, 25 September 2026 22:52 WIB
Penulis:El Putra
Editor:El Putra

MAKASSARINSIGHT.com — Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kota Makassar mengalami kenaikan hingga mencapai Rp85.000 per kilogram. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan pun memperkuat pemantauan pasokan dan distribusi sebagai langkah mengantisipasi kenaikan harga berlanjut.
Pemantauan dilakukan TPID Sulsel di Pasar Terong dan Pasar Pa’baeng-baeng, Kota Makassar, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Polda Sulsel, Bulog, serta sejumlah perangkat daerah terkait.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel Muhammad Ilyas mengatakan, pemantauan dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Gubernur Sulsel untuk mengetahui kondisi harga dan pasokan cabai di lapangan sekaligus menyiapkan langkah intervensi.
“Bahwa ada informasi cabai harganya cukup tinggi, cabai rawit terutama, sehingga beliau menugaskan kita TPID untuk segera melakukan pemantauan di pasar dan terus melakukan juga kegiatan aksi Gerakan Pangan Murah untuk segera menstabilkan harga terutama untuk cabai rawit ini,” kata Muhammad Ilyas.
Baca Juga:
Berdasarkan hasil pemantauan, harga cabai rawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp50.000 per kilogram kini bergerak pada kisaran Rp70.000 hingga Rp85.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut juga terpantau hingga tingkat petani. Harga cabai di tingkat petani berada pada kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
Muhammad Ilyas mengatakan, kondisi cuaca kering yang berlangsung cukup lama turut memengaruhi produksi cabai. Berkurangnya produksi kemudian berdampak terhadap pasokan yang masuk ke pasar.
“Banyak cabai juga yang mengalami masalah di sumbernya. Jadi tentu produksi cabai ini yang suplainya ke pasaran juga yang berkurang,” ujarnya.
Selain faktor produksi, TPID Sulsel kini memantau distribusi cabai yang keluar dari Sulawesi Selatan. Pemerintah ingin memperoleh gambaran mengenai produksi dari 24 kabupaten/kota serta kebutuhan cabai untuk konsumsi di dalam daerah.
“Jadi langkah yang kita lakukan sampai ke Pak Wadir di Reskrimsus untuk bisa mulai memantau dulu pengeluaran dari Sulsel ini untuk cabai yang keluar,” kata Ilyas.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan karena produksi cabai Sulsel dinilai masih memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan daerah apabila pasokannya dapat dikelola dengan baik.
“Karena kita yakin sebetulnya produksi Sulawesi Selatan ini kalau kita inventarisasi dari 24 kabupaten/kota, mungkin masih cukup untuk supply di dalam Sulsel,” lanjutnya.
TPID juga menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan mempertemukan produsen dan penjual secara langsung. Skema tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sehingga masyarakat memperoleh cabai dengan harga yang lebih terjangkau.
“Nah ini mungkin kita akan lihat dulu berapa sebenarnya yang keluar ke daerah lain. Kemudian yang lain kita akan melakukan Gerakan Pangan Murah dengan mencoba memasarkan langsung dari produsen, dari penjual untuk bisa bersama-sama kita menyiapkan cabai dengan harga yang langsung dari pasar, dari produksi, dari produsen,” jelas Ilyas.
Pemerintah juga membuka opsi intervensi biaya distribusi untuk membantu menekan beban transportasi yang ditanggung pengecer. Salah satu sumber pembiayaan yang sedang dijajaki adalah melalui dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Kita juga akan mengusulkan, barangkali mungkin bisa nanti intervensi transportasi kepada para pengecer ini, mudah-mudahan bisa nanti mungkin kita coba cari jalan keluar dari CSR,” katanya.
“Bisa ada solusinya untuk mengurangi tadi harga ini, paling tidak dengan subsidi transportasi,” lanjutnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Firman Hidayat mengatakan, pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, termasuk melalui GPM dan kerja sama antardaerah.
“Stoknya masih ada. Tinggal kita ketemukan antara produsen dan pembeli di sini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sulsel Aryanto mengatakan, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga hingga pekan ketiga September. Cabai menjadi salah satu komoditas hortikultura yang pergerakan harganya relatif cepat mengikuti kondisi produksi dan pasokan.
“Cabai memang di mana-mana naik. Cabai itu sangat volatile, bisa naik tinggi dan bisa turun tinggi,” katanya.
Baca Juga:
Di tengah kenaikan sejumlah komoditas hortikultura, Aryanto menyebut beberapa bahan pangan yang berada dalam pengendalian pemerintah, seperti beras dan minyak, relatif stabil.
Wadir Reskrimsus Polda Sulsel AKBP Dodik Susianto mengatakan, hasil pemantauan bersama menunjukkan ketersediaan komoditas pangan secara umum masih tersedia. Namun, kenaikan harga cabai menjadi perhatian.
“Ketersediaan produk komoditas alhamdulillah lancar, ada tersedia. Namun ada kenaikan harga, terutama cabai,” ujarnya.
TPID Sulsel selanjutnya akan melanjutkan pemantauan harga, pasokan, dan distribusi cabai. Langkah stabilisasi disiapkan melalui Gerakan Pangan Murah, penguatan kerja sama antardaerah, pengawasan distribusi, serta pembahasan dukungan biaya transportasi untuk menekan beban distribusi hingga ke tingkat konsumen. (*)